Rabu, 03 November 2010

Review Jurnal 3

Tema : kualitas air
Judul : ANALISIS KUALITAS AIR LINDI DI TEMPAT PEMBUANGAN
AKHIR SAMPAH PUTRI CEMPO
MOJOSONGO SURAKARTA
Penulis : Dwi astuti
Tahun : 2006

1.1 Latar belakang
Produksi sampah di Kota Surakarta meningkat setiap tahun. Pada tahun 2002 sebanyak 72.396.457 kg, tahun 2003 sebanyak 78.828.190 kg, tahun 2004 sebanyak 81.025.660 kg, tahun 2005 sebanyak 81.880.284 kg, dan tahun 2006 sebanyak 86.498.070 kg (Pemkot Surakarta, 2007). Pertambahan penduduk dengan segala aktivitasnya yang demikian pesat telah mengakibatkan peningkatanjumlah sampah. Produksi sampah yang semakin tinggi, dipacu dengan adanya proses modernisasi, menyebabkan terakumulasinya sampah
sehingga semakin hari semakin menumpuk. Keberadaan tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu sebagai pengolahan akhir sampah baik yang akan didaur ulang sebagai kompos ataupun hanya ditimbun setelah disortir oleh pemulung. Jumlah sampah di TPAS yang sangat besar akan menyebabkan proses dekomposisi alamiah berlangsung.

1.2 Tujuan penelitian
untuk mengetahui kualitas air lindi di tempat pembuangan akhir sampah berdasarkan baku mutu.

1.3 Metodologi penelitian
-Jenis Penelitian :
Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pemeriksaan laboratorium yang hasilnya dianalisis secara deskriptif.
Populasi dan Sampel Penelitian :
Populasi dalam penelitian ini ádala air lindi yang berasal dari TPAS Putri Cempo Mojosongo Surakarta.
Analisis Kualitas Air Lindi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah.
Sampel penelitian berupa air lindi yang diambil dari bagian outlet, cara pengambilan sampel dengan metode quota sampling.
-Lokasi dan Waktu Penelitian :
Pengambilan sampel air lindi di TPAS Putri Cempo Mojosongo Surakarta berasal dari bak penampungan ke saluran alami yang diambil pada musim hujan.
Pemeriksaan sampel dilakukan di Laboratorium Hidrologi Fakultas Geografi
UGM.
-Bahan dan Alat Penelitian :
Bahan
1. Air lindi dari TPAS Putri Cempo Mojosongo Surakarta. Bahan kimia untuk pemeriksaan parameter air yang ada dalam Peraturan Daerah
Provinsi Jateng No. 10 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Limbah Golongan1. AquadesAlat-Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: jerigen volume 5 l dan 35 l, termometer air raksa, pH meter, DO meter, COD reactor, spektrofotometer, dan seperangkat alat titrasi
-Jalannya Penelitian :
.Persiapan alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian, Persiapan alat dan bahan yang akan
digunakan dalam penelitian,pengambilan sampel berupa air lindi dari TPAS Putri Cempo Mojosongo Surakarta. Pengiriman sampel ke Laboratorium Hidrologi Fakultas Geografi UGM. Interpretasi hasil pemeriksaan kualitas air dibandingkan dengan standar parameter yang ada dalam Peraturan Daerah Provinsi Jateng No. 10 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Limbah Golongan I.
-Analisis Data
Data yang diperoleh berupa hasil pengukuran parameter kualitas air lindi dilakukan analisis secara deskriptif.

1.4 Hasil dan Pembahasan
1. Kualitas Air Lindi
Dari hasil analisis kualitas air lindi dapat diketahui bahwa 67,86% atau sebanyak 20 parameter melebihi baku mutu, dan 32,14% atau 9 parameter masih masih di bawah baku mutu. Oksigen terlarut (dissolved oxygen= DO) merupakan kebutuhan dasar untuk
kehidupan tanaman dan hewan di dalam air. Kehidupan mahluk hidup di dalam air sangat tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya, yaitu tidak boleh kurang dari 6 ppm (Fardiaz, 1992). Sedangkan air lindi yang diperiksa hanya mengandung 3,1 ppm sehingga masih jauh dari normal . jika konsentrasi DO terlalu rendah akan mengakibatkan organisme air mengalami kematian. Penyebab utama rendahnya DO adalah adanya bahan-bahan buangan yang menkonsumsi oksigen. Bahan-bahan tersebut
terdiri dari bahan yang mudah dibusukkan atau dipecah oleh bakteri dengan adanya oksigen. Oksigen yang tersedia di dalam air dikonsumsi oleh bakteri yang aktif memecah bahan-bahan tersebut sehingga semakin tinggi kandungan bahan-bahan tersebut semakin berkurang konsentrasi oksigen terlarut. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju absorpsi logam dalam air yaitu kadar garam (air laut), alkalinitas (air tawar), hadirnya senyawa kimia lain, temperatur,
pH, besar kecilnya organisme dan kondisi kelaparan dari organisme
Koliform di dalam air terdiri dari koliform fekal yang berasal dari kotoran hewan dan manusia, serta koliform nonfekal.yang berasal dari hewan dan tanaman mati. Dari air lindi yang diperiksa ditemukan koliform _ 2400, meskipun dalam baku mutu air limbah tidak dipersyaratkan namun angka ini cukup tinggi sehingga perlu dilakukan upaya desinfeksi terhadap air lindi yang nantinya dibuang ke lingkungan. Berdasarkan hasil analisis air lindi parameter kimia yang nilainya cukup tinggi diantaranya BOD, COD, Cd, nitrat, nitrit, serta minyak dan lemak. BOD menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk memecah atau mengoksidasi bahan buangan di dalam air. Menurut Davis dan Cornwell (1991) bahwa semakin tinggi nilai COD, maka akan semakin banyak kadar oksigen terlarut yang diperlukan untuk proses
kimiawi, akibatnya dapat mengurangi ketersediaan oksigen terlarut bagi kehidupan organisme perairan. Menurut Alaerts dan Santika (1987), nitrat dalam tubuh manusia direduksi menjadi nitrit yang dapat bereaksi dengan hemoglobin dalam darah sehingga menyebabkan darah tersebut tidak dapat lagi mengikat oksigen, dan asam yang dibentuk dari nitrat dapat bereaksi membentuk nitrosamine (R-R-N-NO) yang dapat menyebabkan kanker. Sebenarnya terdapat parameter fisika yang merupakan karakteristik khusus air lindi tetapi tidak tercantum dalam baku mutu air limbah ini yaitu bau dan warna. Bau air lindi berasal dari hasil penguraian bahanbahan yang ada di dalam sampah, baik itu bahan-bahan kimia maupun sisa mahluk hidup. Sedangkan warna kehitaman dari air
lindi disebabkan adanya bahan-bahan terlarut, bahan-bahan tersuspensi, termasuk diantaranya yang bersifat koloid.Keberadaan air lindi di TPAS Putri Cempo Mojosongo yang dibuang ke anak sungai dan bermuara di Sungai Bengawan Solo, mempunyai kualitas yang belum baik. Hal ini diketahui dari banyaknya parameter yang masih melampaui standar (67,86%), sehingga perlu dilakukan upaya pengolahan lebih lanjut untuk memperbaiki kualitas air lindi tersebut. System pengolahan yang sudah ada, masih sangat sederhana karena hanya berupa bak-bak penampungan sebelum akhirnya air lindi dibuang ke lingkungan. Upaya-upaya lain untuk mengurangi pencemaran air lindi bisa
dilakukan dengan menerapkan system pengolahan tambahan seperti aerasi, koagulasi, dan desinfeksi.

1.5 Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air lindi di tempat pembuangan akhir sampah Putri Cempo Mojosongo Surakarta, berada di atas baku mutu untuk 19 parameter (67,86%) dari 28 parameter yang diperiksa dan 9 parameter (32,14%) sisanya masih di bawah baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 Tahun 2004.

Saran
1.6 Bagi peneliti lain, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang upaya untuk menurunkan nilai parameter atau memperbaiki kualitas air lindi di TPAS Putri Cempo Mojosongo dikarenakan masih cukup tingginya parameter yang nilainya masih melebihi Baku Mutu Air Limbah Golongan I Peraturan Daerah Provinsi Jateng Nomor 10 Tahun 2004.
2. Bagi masyarakat yang ada di sepanjang Sungai Bengawan Solo, untuk tidak mengkonsumsi air sungai dikarenakan masih tinggi kandungan zat kimia anorganik dalam air lindi yang dibuang ke sungai meskipun pengukuran dilakukan pada musim hujan.
3. Bagi dinas terkait perlu melakukan kegiatan pemantauan kualitas air lindi serta badan air Sungai Bengawan Solo secara rutin dikarenakan masih tingginya nilai beberapa parameter kualitas air lindi yang dibuang ke lingkungan.

Review Jurnal 2

Tema : kualitas air
judul : PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP AIR TANAH DI SUKOHARJO SEBAGAI DAERAH PENYANGGA KOTA.
Penulis : suharjo, sartono putro, dan alif noor anna
Tahun : 2006

1.1 Latar belakang
Daerah sukoharjo merupakan daerah penyangga kota surakarta yang terdiri dari empat kecamatan yaitu kecamatan kartasura, kecamatan grogol, kecamatan baki, dan kecamatan gatak. Beberapa teori mengemukakan bahwa unsur kimia tanah dipengaruhi oleh kondisi alam dan kondisi limbah aktivitas manusia. Kondisi alam antara lain dipengaruhi oleh batuan penyusun aquifer. Batuan terdiri dari satu atau lebih mineral. Sedangkan mineral tersusun satu atau lebih unsur kimia. Dengan demikian batuan penyusun aquifer terdiri dari sejumlah unsure kimia. Sehingga air tanah yang berada pada aquifer akan mengandung unsure kimia sesuai dengan unsure kimia yang terkandung pada batuan penyusun aquifer tersebut. Bentuk aktivitas manusia dapat berupa industri, bengkel, pertokoan, transportasi, dan kegiatan rumah tangga. Semua itu akan menghasilkan limbah yang sebagian besar bercampur dengan air tanah, sehingga air tanah akan terpengaruh sifat-sifat kimia, fisika, biologi dari jenis aktivitas manusia tersebut.

1.2 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian adalah sebagai berikut :
Untuk mengetahui besarnya perubahan penggunaan lahan selama 5 tahun yaitu dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2002. dan untuk mengetahui kondisi kualitas air tanah setelah terjadi perubahan penggunaan lahan.

1.3 Metodologi penelitian
Untuk mencapai tujuan penelitian metode yang digunakan untuk pengambilan sampel yaitu sampel strata terpilih, sedangkan analisa datanya menggubakan data deskriptif. Data yang diperlukan yaitu bentuk lahan, data penggunaan lahan tahun 1998 dan tahun 2002, data kualitas air tanah yaitu kalsium(Ca), magnesium(Mg), natrium(Na), kalium(K), amonium(HN), besi(Fe), nitrat(NO), colorida(CI), sulfat(SO), karbonat(HCO), dan bakteri coli serta data estándar buku mutu air minum. Data bentuk lahan didapatkan melalui penampalan hasil interpretasi peta geologi, peta topografi, dan ceking lapangan. Data perubahan penggunaan lahan didapatkan Melalui data penampalan peta penggunaan lahan tahun 1998 dan data penggunaan lahan tahun 2002. data koalitas air tanah diperoleh dari analisi laboratium sampel air tanah disetiap satuan lahan permukiman yang telah dibandingkan dengan stándar buku mutu untuk air minum dari departemen kesehatan.Satuan lahan permukiman di peroleh melalui penampalan peta bentuk lahan, peta tanah dan peta penggunaan lahan tahun 2002.

1.4 Hasil dan pembahasan
-Hasil penelitian
a.perubahan penggunaan lahan
untuk mendapatkan perubahan penggunaan lahan sampai tahun 2002 maka peta penggunaan lahan tahun 1998 dibuat gred, setiap gred mempunyai panjang 2cm dipeta atau 400m2 di lapangan. Kerja lapangan dilakukan pengamatan dan deliniasi di peta terhadap kenampakan penggunaan lahan pada saat pengamatan. Hasil kerja lapangan didapatkan peta penggunaan lahan tahun 2002 dan 1998 disajikan pada lampiran.
b.kualitas air tanah
hasil penampalan di dapatkan 13 titik sampel air tanah dengan agihan atau penyebaran disajikan dalam peta lokasi sampel air atau lampiran.
-Pembahasan.
Unsur-unsur kimia air tanah dapat berasal dari limbah aktivitas penduduk terdiri dari NO3, NH4, CI dan bakteri coli. Berdasarkan lampiran didapatkan tingkat kelayakan air tanah untuk air minum serta pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap kualitas air tanah. Perubahan penggunaan lahan dan dampaknya terhadap kualitas air tanah serta agihannya dapat dilihat dalam penelitian sebagai berikut.
*Kecamatan kartasura
Kualiatas air tanah di desa wirogunan kartasura dipengaruhi oleh faktor alam aktivitas penduduk. Faktor alam ditunjukan dengan besarnya unsur kalsium (Ca) 588.00 ppm, natrium(Na) 259.00 ppm, kalium(K) 13,50 ppm, dan HCO3 sebesar 400 ppm. Dari aktivitas penduduk ditunjukan dengan besarnya unsur chlorida 13,33 ppm dan bakteri coli 9. Dampak dari faktor alam dan aktivitas manusia airtanah daerah ini tidak layak untuk air minum.
*Kecamatan grogol.
Kualitas air tanah sebagian tidak layak untuk diminum. Faktor yang berpengaruh terhadap ketidaklayakan air tanah untuk air minum yaitu limbah aktivitas manusia. hasil penelitian didapatkan NO3 sebesar 0-1,2 ppm, chlorida 13,33-77,90 ppm, dan bakteri coli 9-110 yang melebihi standar maksimun untuk iar minum. Unsur-unsur kimia yang berasal dari faktor alam seperti kalsium 75-110 ppm, magnesium 3-80 ppm, natrium 24-31,60 ppm, kalium 4-14,7 ppm, Fe 0,00 ppm, dan CO3 0,00 ppm dibawah standar maksimun air tanah yang diperbolehkan untuk air minum dan ini berarti tidak layak untuk di konsumsi.
*Kecamatan baki
Hasil analisa dikecamatan baki menunjukan adanya perubahan penggunaan sawah untuk perusahaan meubel antik dan konsumsi export dan perumahan tempat tinggal. Hasil analisa air tanah menunjukan altivitas manusia yaitu NO3 1,2 ppm, chlorida 34-43,10 ppm, bakteri coli 120-2400 ini berarti tidak layak untuk diminum. Sedangkan unsur-unsur yang terdapat dari faktor alam yaitu kalsium 54 dan 87,00 ppm, magnesiun 11-17,20 ppm, natrium 24 ppm, kalium 6-14,7 ppm, besi 0-0,8 ppm, yang berarti tidak layak untuk diminum.
*Kecamatan gatak
Hasil analisa dilabolatorium kecamatan ini terdapat airtanah yang layak diminum dan airtanah yang tidak layak untuk diminum. Unsur-unsur kimia yang terkandung dalam tanah dan layak untuk dikonsumsi yaitu NO2,Chlorida, CO3, Fe, dan kalium.

1.4 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perubahan lahan sawah menjadi lahan permukiman daerah kecamatan kertasura.selama 5 tahun seluas 5646165,20 m2. sedang untuk kecamatan grogol seluas 554906,6 m2. sebagian besar air tanah pada satuan lahan permukiman kandungan bakteri colinya antara 9-2400 dan kalsium 588 ppm sehingga tidah layak untuk air minum.tiga daerah yang air tanahnya layak untuk di munum yaitu di desa pucangan kartasura, desa telukan grogol, dan desa geneng gatak. Kandungan bakteri E.Coli air tanah 0 dan kandungan unsur kimia yang lain dibawah estándar baku mutu maksimun yang diperbolehkan. Perubahan penggunaan lahan permukiman sebagian besar berdampak negativ terhadap kualitas air tanah untuk air minum sehingga tidak layak untuk di minum.

review jurnal 1

Nama : winda listianingrum
Npm : 11208290
Kelas : 3EA10

REVIEW JURNAL 1

Tema : analisis kualitas air
judul : UJI KORELASI PENGARUH LIMBAH TAPIOKA
TERHADAP KUALITAS AIR SUMUR
Penulis : Ignasius D.A. Sutapa1

1.1Latar beakang
Pemanfaatan air sumur di desa Karadenan Kabupaten Bogor cukup tinggi, karena belum terjangkaunya wilayah tersebut oleh PDAM setempat. Pemanfaatan air tanah secara intensif serta produksi air limbah dari pabrik tapioka yang berada di desa Karadenan terus meningkat sehingga dapat menyebabkan perubahan kualitas air tanah dan dapat mengganggu pemanfaatannya. Pemanfaatan air sumur oleh penduduk desa Karadenan
Kabupaten Bogor ini adalah untuk memenuhi kebutuhan penduduk setempat, seperti air minum, MCK, dan industri tapioka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air sumur gali penduduk sangat dipengaruhi oleh kualitas limbah tapioka di bak penampungan yang ada disekitarnya. Hal ini terlihat adanya korelasi satu arah antara kualitas limbah dan jarak terhadap sumur penduduk disatu sisi terhadap kalitas air sumur di sisi yang lain. Terlihat bahwa semakin dekat jarak sumur terhadap bak penampungan limbah tapioka maka kualitas air sumur semakin rendah.

1.2 Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh limbah tapioka terhadap kualitas air sumur penduduk, baik kualitas fisik maupun kualitas kimiawi.

1.3 Metodologi penelitian
Penelitian ini dilakukan uji fisik dan kimiawi untuk setiap sampel air, tetapi tidak semua parameter yang dipersyaratkan dalam kriteria baku untuk air minum diukur dalam penelitian ini mengingat keterbatasan-keterbatasan yang ada. Parameterparameter tersebut antara lain : pH, DO, BOD, COD, Sulfida, Sianida, Amonia, Nitrat, Nitrit, Besi dan kesadahan, serta suhu dan konduktifitas. Pengambilan sample air sumur penduduk dilakukan 3 kali dengan jarak pengambilan 1 bulan sekali. Setiap sampel dianalisis dengan 3 kali pengulangan (triplo). Waktu pengambilan sampel pada siang hari.
Teknik sampling yang dilakukan adalah Grab Sampling. Metode sampling dan analisis parameter kualitas air. Penelitian dilakukan di desa Karadenan Kabupaten Bogor. Lokasi penelitian ditetapkan dengan pertimbangan bahwa lokasi sumur berdekatan dengan lokasi pencemar (kolam penampungan limbah cair), sedangkan analisis sampel dilakukan di L aboratorium Pengendalian Pencemaran Air Puslitbang Limnologi LIPI Cibinong.
-Teknik Analisis Data
Data dilengkapi dengan kuisioner, wawancara, serta, observasi langsung. Kualitas limbah cair tapioka diketahui dengan membandingkan hasil analisis terhadap SK Menteri KLH No.51/MENKLH/10/ 1995, sedangkan kualitas air sumur dibandingkan dengan Permenkes No.416/Menkes/Per/IX/1990 atau PPRI No.20 Tahun 1990 Tanggal 5 Juni 1990. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh jarak sumur dari sumber pencemar terhadap parameter-parameter kualitas air yang dianalisis, digunakan analisis korelasi jenjang spearman (bertingkat), maka ditetapkan hipotesis sebagai berikut:
Ho : Tidak ada korelasi antara jarak sumur dengan sumber pencemar terhadap parameter kualitas air.
H1 : Ada korelasi antara jarak sumur dengan sumber pencemar terhadap parameter kualitas air.
Aturan keputusan:
Untuk α = 0,05:
Jika rs> r (0,05), maka H0
ditolak.
Jika rs < r (0,05), maka H0
diterima.
Nilai r (0,05) dari tabel
statistik adalah 0,643.

1.4 Hasil Dan Pembahasan
1. Kondisi Kolam Penampungan
Secara teoritis air sumur di sekitar kolam penampungan limbah tapioka berpotensi untuk tercemar limbah. Hal ini sangat memungkinkan
dengan melihat kondisi saluran pembuangan dan kolam penampungan limbah cair di lapangan. Saluran pembuangan pabrik tapioka bersatu dengan saluran air Setu yang menuju kolam-kolam penampungan limbah dan ikan di areal seluas ± 5000 m2, sehingga saat limbah cair dari bak pengenapan pati dikeluarkan komposisi pencemar mengalami pengenceran yang cukup besar.
2. Kualitas Air Sumur
a. Parameter Fisik
Pengamatan kualitas fisik terhadap air sumur gali penduduk RT 04 RW 02 Desa Karadenan Kabupaten Bogor menunjukkan:
b. Bau, Rasa dan Warna
Hasil pengamatan di sebelas sumur gali menunjukkan sebagian besar air sumur berbau, berasa, dan tiga sumur lainnya menunjukkan warna kuning yang cukup jelas. Hal ini menunjukkan air sumur tersebut tidak memenuhi persyaratan kualitas fisik air minum yang tidak boleh berbau, berasa dan berwarna.
c. Daya Hantar Listrik (DHL) dan Kekeruhan
Parameter DHL menunjukkan nilai yang berkisar antara 0.054 – 0.121 mikromhos/cm. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas air sumur gali tersebut memenuhi
persyaratan kualitas air minum Permenkes No. 416/ MENKES/ PER/IX/1990. Kekeruhan air sumur gali tidak menunjukkan nilai tertentu (tidak terdeteksi) dengan alat WQC. Hal ini menunjukkan nilai kekeruhan yang kecil (kategori air jernih) dan memenuhi persyaratan kualitas air minum Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/MENKES/
PER/IX/1990, yakni sebesar 25 NTU.
d. Suhu
Suhu air dipengaruhi oleh kedalaman perairan, komposisi substrat dasar, luas permukaan yang langsung mendapatkan sinar matahari dan tingkat penutupan daerah pemukiman perairan (LANGENEGGER, 1994). Suhu air pada sumur-sumur gali yang diamati pada
umumnya tidak jauh berbeda, berkisar antara 26.90 – 28.59 oC. Suhu yang tidak sesuai dapat merusak keseimbangan suhu tubuh dan jika suhu lebih dari 350C, air dapat menimbulkan rasa (WIJAYA,1991).
e. Parameter Kimiawi
Pengamatan kualitas kimiawi air sumur menunjukkan adanya parameter pencemar yang dominan mencemari air sumur penduduk,
yaitu:
f. Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman pada kolam penampungan berkisar antara 5.19 – 5,89. Nilai pH di kolam penampungan ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan pH pada bak pengendapan pati. Hal ini disebabkan oleh karena limbah tapioka banyak mengandung bahan organik, sehingga memungkinkan untuk hidupnya bakteri aerobik. Adanya oksigen di dalam air dapat mengoksidasikan bahanbahan organik tersebut menjadi CO2 yang dapat menurunkan derajat keasaman air.
g. Biological Oxygen Demand dan Chemical Oxygen Demand
Nilai BOD limbah cair tapioka di kolam penampungan berkisar antara 67,08 – 114,79 mg/l sedangkan COD berkisar antara 250 - 1250 mg/l melebihi baku mutu Limbah. Nilai BOD maksimum limbah mutu I dan II sebesar 50 mg/l dan 150 mg/l, sedangkan nilai COD sebesar 100 mg/l dan 300 mg/l. Hasil perhitungan uji korelasi jenjang Spearman antara BOD air sumur terhadap jarak kolam penampungan pada tabel 2 menunjukkan
adanya korelasi negatif antara BOD dengan jarak sumur terhadap kolam penampungan (rs = -0.65), artinya semakin jauh jarak maka semakin kecil nilai BOD air sumur.
h. Sulfida (S2-)
Kandungan sulfida limbah cair tapioka di kolam penampungan berkisar antara 13.02 – 28.46 mg/l melebihi baku mutu limbah. Berdasarkan hasil perhitungan uji korelasi jenjang Spearman antara Sulfida air sumur terhadap jarak kolam penampungan
menunjukkan adanya korelasi negatif antara Sulfida dengan jarak sumur terhadap kolam penampungan (rs = - 0.7682), artinya semakin jauh jarak sumur maka semakin kecil konsentrasi Sulfida air sumur. Hal tersebut dapat membuktikan bahwa kandungan
Sulfida yang tinggi pada air sumur gali penduduk tersebut dimungkinkan oleh resapan air kolam penampungan limbah tapioka terhadap air sumur penduduk di sekitarnya.
i.Besi (Fe)
Berdasarkan persyaratan kualitas air minum Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990, kadar Besi maksimum yang diperbolehkan sebesar 1.0 mg/l, tetapi hasil pengukuran Besi air sumur berkisar antara 0.01 – 17.56 mg/l. Hal ini
menunjukkan bahwa kandungan Besi pada sebagian besar air sumur penduduk tidak memenuhi persyaratan kualitas air minum dan telah tercemar Besi. hasil perhitungan uji korelasi jenjang Spearman yang menunjukkan adanya korelasi negatif antara
Besi dengan jarak sumur terhadap kolam penampungan (rs = -0.8409).
Semakin jauh jarak sumur maka semakin rendah konsentrasi Besi air sumur.
j. Oksigen Terlarut (DO)
Hasil perhitungan uji korelasi jenjang Spearman. antara DO air sumur terhadap jarak kolam penampungan menunjukkan adanya korelasi antara DO dengan jarak sumur terhadap kolam penampungan
k. Ammonia (NH4+)
Kandungan ammonia pada sampel air sumur gali penduduk, berkisar antara 0.0 – 0.15 mg/l. Hasil perhitungan uji korelasi jenjang Spearman antara ammonia air sumur terhadap jarak kolam penampungan menunjukkan tidak ada korelasi antara ammonia
dengan jarak sumur terhadap kolam penampungan (rs = -0.4909 < r (0.05)).
l. Nitrat (NO3-)
Uji korelasi jenjang Spearman antara nitrat air sumur terhadap jarak kolam penampungan menunjukkan adanya korelasi antara nitrat dengan jarak sumur terhadap kolam penampungan (rs = -0.5591).
m. Kesadahan
Hasil perhitungan uji korelasi jenjang Spearman Nilai tersebut di atas lebih tinggi
dibandingkan nilai yang ada pada kolam penampungan. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengenceran air setu yang mengalir melalui kolam dan proses biotransformasi nitrogen.

1.4Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap kualitas air sumur penduduk Desa Karadenan Kabupaten Bogor, diketahui bahwa sebagian besar air sumur telah tercemar oleh Sulfida (0.1 – 15.35 mg/L), Besi (1.10 – 17.56 mg/L), COD (11 – 225 mg/L) serta derajat keasaman yang rendah (4.18 – 6.12). Buruknya kualitas air sumur ini disebabkan oleh limbah cair tapioka yang belum dikelola dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan uji
korelasi untuk menentukan hubungan jarak kolam penampungan terhadap kualitas air sumur, dimana didapatkan korelasi parameter yang dominan sebagai pencemar, yaitu
pH, COD dan BOD, Sulfida, dan Besi terhadap air sumur. Selain itu dapat juga dibuktikan dengan kualitas air wilayah pembanding yang kualitas air sumurnya lebih
baik. Besarnya pengaruh limbah cair tapioka dapat diketahui dengan cara mencari persamaan matematis hubungan jarak kolam dan kualitas air kolam terhadap kualitas air sumur. Berdasarkan persamaan matematis yang dihasilkan, akan dapat ditentukan variable independen yang mempengaruhi kualitas air sumur tersebut yang dapat diprediksikan antara lain jarak dan parameter pH, COD, Sulfida, dan Besi.

Rabu, 13 Oktober 2010

tugas prilaku konsumen

PENGERTIAN PERILAKU KONSUMEN

Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan.Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian.Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan dengan pertimbangan yang matang.

Definisi lainnya adalah bagaimana konsumen mau mengeluarkan sumber dayanya yang terbatas seperti uang, waktu, tenaga untuk mendapatkan barang atau jasa yang diinginkan.

Analisis tentang berbagai faktor yang berdampak pada perilaku konsumen menjadi dasar dalam pengembangan strategi pemasaran. Ya, pemasar wajib memahami konsumen, seperti apa yang dibutuhkan, apa seleranya, dan bagaimana konsumen mengambil keputusan.

Terkait dengan perilaku konsumen, maka terkait pula dengan prinsip 5W+1H :

1. Why : Mengapa mendapatkan barang/jasa tersebut ?
2. What : Berupa apa barang/jasa tersebut ?
3. Who : Siapa yang mendapatkan barang/jasa itu ?
4. When : Kapan bisa didapatkan barang/jasa tersebut ?
5. Where : Dimana barang/jasa tersebut bisa didapatkan ?
6. How : Bagaimana barang/jasa tersebut didapatkan ?

Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah :

Faktor Sosial
a. Group
Sikap dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak grup-grup kecil. Kelompok dimana orang tersebut berada yang mempunyai pengaruh langsung disebut membership group. Membership group terdiri dari dua, meliputi primary groups (keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja) dan secondary groups yang lebih formal dan memiliki interaksi rutin yang sedikit (kelompok keagamaan, perkumpulan profesional dan serikat dagang).
b. Family Influence
Keluarga memberikan pengaruh yang besar dalam perilaku pembelian. Para pelaku pasar telah memeriksa peran dan pengaruh suami, istri, dan anak dalam pembelian produk dan servis yang berbeda. Anak-anak sebagai contoh, memberikan pengaruh yang besar dalam keputusan yang melibatkan restoran fast food. .
c. Roles and Status
Seseorang memiliki beberapa kelompok seperti keluarga, perkumpulan-perkumpulan, organisasi. Sebuah role terdiri dari aktivitas yang diharapkan pada seseorang untuk dilakukan sesuai dengan orang-orang di sekitarnya. Tiap peran membawa sebuah status yang merefleksikan penghargaan umum yang diberikan oleh masyarakat
Faktor Personal
a. Economic Situation
Keadaan ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan produk, contohnya rolex diposisikan konsumen kelas atas sedangkan timex dimaksudkan untuk konsumen menengah. Situasi ekonomi seseorang amat sangat mempengaruhi pemilihan produk dan keputusan pembelian pada suatu produk tertentu
b. Lifestyle
Pola kehidupan seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, ketertarikan, dan opini orang tersebut. Orang-orang yang datang dari kebudayaan, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama mungkin saja mempunyai gaya hidup yang berbeda
c. Personality and Self Concept
Personality adalah karakteristik unik dari psikologi yang memimpin kepada kestabilan dan respon terus menerus terhadap lingkungan orang itu sendiri, contohnya orang yang percaya diri, dominan, suka bersosialisasi, otonomi, defensif, mudah beradaptasi, agresif . Tiap orang memiliki gambaran diri yang kompleks, dan perilaku seseorang cenderung konsisten dengan konsep diri tersebut
d. Age and Life Cycle Stage
Orang-orang merubah barang dan jasa yang dibeli seiring dengan siklus kehidupannya. Rasa makanan, baju-baju, perabot, dan rekreasi seringkali berhubungan dengan umur, membeli juga dibentuk oleh familylife cycle . Faktor-faktor penting yang berhubungan dengan umur sering diperhatikan oleh para pelaku pasar. Ini mungkin dikarenakan oleh perbedaan yang besar dalam umur antara orang-orang yang menentukan strategi marketing dan orang-orang yang membeli produk atau servis.
e. Occupation
Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibeli. Contohnya, pekerja konstruksi sering membeli makan siang dari catering yang datang ke tempat kerja. Bisnis eksekutif, membeli makan siang dari full service restoran, sedangkan pekerja kantor membawa makan siangnya dari rumah atau membeli dari restoran cepat saji terdekat.

Faktor Psychological
a. Motivation
Kebutuhan yang mendesak untuk mengarahkan seseorang untuk mencari kepuasan dari kebutuhan. Berdasarkan teori Maslow, seseorang dikendalikan oleh suatu kebutuhan pada suatu waktu. Kebutuhan manusia diatur menurut sebuah hierarki, dari yang paling mendesak sampai paling tidak mendesak (kebutuhan psikologikal, keamanan, sosial, harga diri, pengaktualisasian diri). Ketika kebutuhan yang paling mendesak itu sudah terpuaskan, kebutuhan tersebut berhenti menjadi motivator, dan orang tersebut akan kemudian mencoba untuk memuaskan kebutuhan paling penting berikutnya.
b. Perception
Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengorganisasi, dan menerjemahkan informasi untuk membentuk sebuah gambaran yang berarti dari dunia. Orang dapat membentuk berbagai macam persepsi yang berbeda dari rangsangan yang sama.
Pembelajaran adalah suatu proses, yang selalu berkembang dan berubah sebagai hasil dari informasi terbaru yang diterima (mungkin didapatkan dari membaca, diskusi, observasi, berpikir) atau dari pengalaman sesungguhnya, baik informasi terbaru yang diterima maupun pengalaman pribadi bertindak sebagai feedback bagi individu dan menyediakan dasar bagi perilaku masa depan dalam situasi yang sama.
d. Beliefs and Attitude
Beliefs adalah pemikiran deskriptif bahwa seseorang mempercayai sesuatu. Beliefs dapat didasarkan pada pengetahuan asli, opini, dan iman. Sedangkan attitudes adalah evaluasi, perasaan suka atau tidak suka, dan kecenderungan yang relatif konsisten dari seseorang pada sebuah obyek atau ide.
Faktor Cultural
Nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang melalui keluarga dan lembaga penting lainnya. Penentu paling dasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Culture, mengkompromikan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang secara terus-menerus dalam sebuah lingkungan.
a. Subculture
Sekelompok orang yang berbagi sistem nilai berdasarkan persamaan pengalaman hidup dan keadaan, seperti kebangsaan, agama, dan daerah. Meskipun konsumen pada negara yang berbeda mempunyai suatu kesamaan, nilai, sikap, dan perilakunya seringkali berbeda secara dramatis.
b. Social Class
Pengelompokkan individu berdasarkan kesamaan nilai, minat, dan perilaku. Kelompok sosial tidak hanya ditentukan oleh satu faktor saja misalnya pendapatan, tetapi ditentukan juga oleh pekerjaan, pendidikan, kekayaan, dan lainnya.
Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian menurut Schiffman, adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan. Bentuk proses pengambilan keputusan tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Fully Planned Purchase, baik produk dan merek sudah dipilih sebelumnya. Biasanya terjadi ketika keterlibatan dengan produk tinggi (barang otomotif) namun bisa juga terjadi dengan keterlibatan pembelian yang rendah (kebutuhan rumah tangga). Planned purchase dapat dialihkan dengan taktikmarketing misalnya pengurangan harga, kupon, atau aktivitas promosi lainnya.
2. Partially Planned Purchase, bermaksud untuk membeli produk yang sudah ada tetapi pemilihan merek ditunda sampai saat pembelajaran. Keputusan akhir dapat dipengaruhi oleh discount harga, atau display produk
3. Unplanned Purchase, baik produk dan merek dipilih di tempat pembelian. Konsumen sering memanfaatkan katalog dan produk pajangan sebagai pengganti daftar belanja. Dengan kata lain, sebuah pajangan dapat mengingatkan sesorang akan kebutuhan dan memicu pembelian.

KESIMPULAN

Dari data di atas dapat di simpulkan bahwa perilaku konsumen adalah suatu proses atau aktivitas dimana seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan.Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian.dimana konsumen mau mengeluarkan sumber dayanya yang terbatas seperti uang, waktu, tenaga untuk mendapatkan barang atau jasa yang diinginkan.


Referensi :

http://wsmulyana.wordpress.com/2009/01/09/perilaku-konsumen/

http://www.anneahira.com/artikel-umum/perilaku-konsumen.htm

http://www.google.com

Minggu, 30 Mei 2010

mengantisipasi ajaran agama dan pancasila

Filsafat, Pancasila, Prinsip Tunggal dan Agama
Februari 5th, 2010 by indraak11253

Filsafat adalah hasil pemikiran manusia berupa nilai-nilai berwujud kebenaran, yang bersifat fundamental, universal dan hakiki. Filsafat mengajarkan kearifan dan kebijakan dalam kehidupan. Filsafat bisa membentuk suatu sistem dalam kehidupan. Di sini seolah-olah manusia menciptakan sistem, melalui filsafat.

Bandingkan dengan Prinsip Tunggal, prinsip tunggal adalah kebenaran mutlak yang berwujud prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh Illahi (Tuhan) berupa takdir yang tidak dapat dirubah. Prinsip-prinsip dimaksud merupakan suatu sistem yang komperhensip. Prinsip Tunggal bersifat imperatif (mengikat, memaksa), harus atau wajib dilaksanakan atau ditaati. Pelanggaran terhadap prinsip tunggal beresiko, hilangnya keseimbangan alam, kelestarian dan merusak tatanan kehidupan. Prinsip tunggal bisa berupa nilai-nilai moral, hukum alam atau lainnya yang bertujuan melestarikan kehidupan. Di sini manusia berusaha mencari dan mengungkap sesuatu (prinsip tunggal) yang memang sudah ada, dan manusia secara otomatis menjadi bijak, bila melaksanakan prinsip tunggal.

Pancasila adalah dasar negara RI, yang terdiri dari ideologi (sila ke 1,2 dan3), visi (sila ke 4) dan misi (sila ke 5).
Ideologi Pancasila identik dengan Ideologi Prinsip Tunggal, yang sesungguhnya adalah ideologi agama. Ketiganya ( ideologi pancasila, prinsip tunggal dan agama) adalah kebenaran mutlak yang berwujud prinsip-prinsip yang merupakan suatu sistem yang komperhensip. Yang dijadikan filsafat hidup atau prinsip hidup, sebagai akidah dan landasan moral dalam komunitas dunia (global).

Dengan Filsafat, banyak prinsip tunggal yang terungkap, jadi filsafat adalah sarana untuk mengungkap dan memahami prinsip tunggal. Agama mengajarkan prinsip-prinsip yang harus atau yang tidak boleh dilakukan oleh manusia. Agama adalah prinsip tunggal yang mengatur kehidupan. Sebagai manusia seharusnya kita bersyukur, karena agama mempunyai rujukan yang jelas yaitu kitab suci, dan ini memudahkan manusia untuk mengungkap kehidupan (lautan prinsip tunggal). Dengan memahami pancasila, prinsip tunggal atau agama, manusia dapat memilih jalan lurus untuk mencapai tujuan hidupnya di dunia (sukses dunia dan akhirat).

Pancasila dan Islam
Desember 15th, 2009 by indraak11253

Pancasila adalah Dasar Negara. Sebagai dasar negara, pancasila terdiri dari :

1. Ideologi Negara (sila ke 1,2 dan 3), sebagai landasan atau prinsip kehidupan.

2. Visi Negara (sila ke 4) yaitu membentuk pemerintahan rakyat (demokrasi).

3. Misi Negara (sila ke 5) yaitu mewujudkan keadilan sosial.

Ideologi pancasila (trisila), yang merupakan kebenaran mutlak atau prinsip tunggal (baca blog prinsip tunggal), adalah ideologi prinsip tunggal yang sebenarnya adalah ideologi agama. Karena agama adalah prinsip tunggal atau kebenaran mutlak, yang mempunyai rujukan yang jelas dan pasti yaitu kitab suci. Sedangkan trisila itu hanya rumusan yang mendasar dari agama tentang kehidupan manusia. Semua agama mempunyai rumusan yang sama tentang kehidupan manusia. Prinsip Tunggal Trisila mengambarkan aspek atau dimensi kehidupan manusia, yaitu :

1. Aspek atau dimensi Kehidupan pribadi (prinsip ketuhanan atau tauhid yaitu iman dan taqwa).
2. Aspek atau dimensi Kehidupan antar personal (prinsip kemanusian atau moral yaitu adil dan beradab).
3. Aspek atau dimensi Kehidupan komunitas (prinsip persatuan atau komunitas yaitu kebersamaan dan musyawarah).

Ketiga aspek kehidupan di atas, prinsip prinsip yang dikandungnya tak terhingga jumlahnya. Sehingga dapat mengantisipasi semua permasalah kehidupan yang tanpa batas.

Islam adalah agama yang dipeluk oleh mayoritas rakyat Indonesia. Sedangkan agama (bukan hanya islam) adalah prinsip tunggal atau kebenaran mutlak. Jadi Ideologi Pancasila atau Prinsip Tunggal Trisila adalah Ideologi Islam sesuai dengan prinsip keadilan (karena mayoritas WNI Muslim).

Prinsip tunggal adalah kebenaran mutlak yang berupa ketentuan Illahi yang tidak dapat dirubah atau takdir, oleh karenanya wajib bagi NKRI untuk menegakkan Syariat Islam bagi umat muslim yang menjadi warganya. (Baca blog miauideologi tentang “KEUNGGULAN SYARIAT ISLAM”).

Pancasila dan Nasionalisme
Nopember 28th, 2009 by indraak11253

Pancasila adalah produk bangsa Indonesia, yang harus kita hargai dan syukuri kelahirannya. Mengapa? Karena tanpa kita sadari pancasila telah membawa kita sebagai bangsa atau salah satu komunitas dunia kearah yang benar (menuju ke kebenaran mutlak atau prinsip tunggal), walau belum sepenuhnya (100%).

Sejarah menunjukan bahwa pemahaman dan penerapan pancasila selama ini mengarah ke pembenaran (kebenaran relative). Oleh karenanya wajar bila pancasila menjadi sumber kontroversi.

Kontroversi akan hilang, bila sila sila pancasila telah murni sebagai kebenaran mutlak atau prinsip tunggal, dan dipahami sebagai aksioma Illahiah.

Pancasila dapat dijelaskan sebagai aksioma Illahiah sebagai berikut :

Sila pertama,
Ketuhanan YME adalah kebenaran mutlak atau prinsip tunggal. Prinsip ketuhanan (tauhid) adalah iman dan taqwa. Iman dan taqwa mengatur aspek (dimensi) kehidupan pribadi yang inti atau muaranya adalah ibadah.

Sila kedua,
Kemanusiaan yang adil dan beradab (moral) adalah kebenaran mutlak atau prinsip tunggal. Prinsip kemanusiaan ini mengatur aspek (dimensi) kehidupan antar personal yang dapat menciptakan kedamaian dan ketentraman dalam kehidupan.

Sila ketiga,
Persatuan Indonesia adalah nasionalisme. Nasionalisme adalah sasaran antara (kebenaran relatif). Nasinalisme harus digerakan menuju persatuan dunia (sifat Illahiah) yang merupakan kebenaran mutlak atau prinsip tunggal. Prinsip persatuan adalah kebersamaan dan musyawarah yang mengatur aspek (dimensi) kehidupan komunitas atau kelompok.

Sila ke 1,2 dan 3 di atas adalah ideologi sebagai landasan tauhid dan moral dalam kehidupan tanpa mengabaikan persatuan, yang harus dilaksanakan secara utuh, karena salin melengkapi.

Sila keempat,
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawarahan dan perwakilan. Sila ini sebenarnya adalah demokrasi yang merupakan Visi, yaitu membentuk pemerintahan rakyat.

Sila kelima,
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sila ini merupakan Misi yaitu mewujudkan keadilan sosial.

Nasionalisme sebaiknya ditinggalkan, karena nasionalisme memicu ego. Nasionalisme bukan kebenaran mutlak atau prinsip tunggal, karena keluar dari sifat Illahiah ( persatuan yang sesungguhnya).

mengantisipasi dampak teknologi dan lingkungan

PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DAN PERGAULAN REMAJA

A. Perkembangan Budaya Barat di Indonesia

Budaya barat masuk ke Indonesia semenjak zaman penjajahan. Semenjak itulah budaya barat memulai perkembangannya di Indonesia. Pada mulanya, budaya ini belum mempengaruhi semua lapisan masyarakat, karena pada saat itu berlaku sistem kasta yang tidak memungkinkan kalangan masyarakat bawah untuk mengadopsi budaya ini ( Matroji, 2006 : 122 ).

Budaya barat yang mendominasi pada saat itu ialah penggunaan bahasa, cara berpakaian, dan tata krama. Hal ini bisa dilihat dari penggunaan bahasa Belanda sebagai pengantar di sekolah-sekolah kalangan atas. Cara berpakaian seperti pakaian Belanda, dengan topi, tongkat, dan gaun, juga pergaulan pria dan wanita yang lebih terbuka. Misalnya, pria dan wanita yang berbicara berdua dianggap tabu sebelumnya, tapi kemudian dianggap biasa oleh masyarakat, wanita-wanita yang dulunya hanya mengenakan kebaya dan baju kurung mulai mengenakan pakaian yang lebih modis dan terbuka. Setelah Indonesia merdeka, perkembangan budaya barat mulai merata ke seluruh lapisan masyarakat. Sejak itu, budaya barat berkembang dengan cepat di Indonesia. Walaupun bahasa Belanda telah ditukar dengan bahasa Indonesia ketika zaman pendudukan Jepang ( Matroji, 2006 : 162 ), dalam bidang lain pengaruh budaya barat semakin kuat.

Saat ini pengaruh budaya barat tidak hanya sebatas cara berpakaian, pergaulan, tapi juga di bidang pendidikan dan gaya hidup. Subjek yang paling terpengaruh adalah remaja. Bahkan bagi sebagian remaja, gaya hidup barat merupakan suatu kewajiban dalam pergaulan. Banyak factor yang menyebabkan remaja sangat mudah menyerap budaya barat. Hal ini akan dibahas pada pembahasan berikutnya.

B. Faktor Pendukung Perkembangan Budaya Barat dikalangan Generasi Muda

Budaya Barat berkembang dengan sangat pesat di Indonesia. Perkembangannya tidak hanya terjadi di kota-kota besar, namun telah merambah ke kota-kota kecil, bahkan ke desa-desa. Tanpa disadari, masyarakat telah memadukan budaya Barat dengan budaya Timur dalam aspek kehidupan mereka.

1. Faktor Internal

Generasi muda memiliki semangat yang tinggi dalam aktivitas yang mereka gemari. Mereka memiliki energi yang besar, yang dicurahkannya pada bidang tertentu, ide-ide kreatif terus bermunculan dari pikiran mereka, walaupun pada sebagian remaja tidak terlihat hal ini. Selain potensi yang besar, generasi muda terutama remaja juga memiliki rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Untuk menuntaskan rasa ingin tahunya, mereka cenderung menggunakan metode coba-coba. Jika kurang berhati-hati, penggunaan metode ini sangat merugikan, karena yang di coba belum tentu sesuatu yang baik.

Hal ini juga terjadi pada saat budaya barat masuk kedalam kehidupan remaja. Sebagai sesuatu yang asing dan baru, budaya ini menarik perhatian mereka. Sebagai contoh, ketika berkembang system belajar yang menyenangkan atau disebut Quantum Learning, remaja cenderung mencoba hal tersebut. Namun hal ini tidak terbatas hanya pada budaya yang bersifat positif, tapi juga pada budaya negatif.

Misalnya, ketika berkembang budaya “clubbing” di kota-kota besar, sebagian besar remaja marasa tertarik untuk mencoba, sehingga ketika sudah merasakan kelebihannya, perbuatan itu terus dilakukan. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari peran keluarga dalam membimbing remaja dalam menjalani masa yang sangat sulit ini. peran keluarga ini akan dijelaskan pada subbab selanjutnya.

2. Faktor Eksternal

Dalam perkembangannya, budaya barat dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal, faktor eksternalnya antara lain keluarga, lingkungan, pergaulan, perkembangan teknologi, dan media massa, berikut penjabarannya.

*

Keluarga

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, keluarga berperan penting dalam membimbing remaja untuk menentukan yang baik atau tidak untuk dilakukan. Orang tua memegang peranan utama didalam sebuah keluarga. Segala tindakanya akan berpengaruh besar terhadap perkembangan fisik dan psikis anak. Remaja dengan orang tua yang memperhatikan mereka cenderung dapat memilah budaya barat yang berdampak positif atau negatif bagi mereka. Namun juga terdapat sebagian remaja yang bersal dari keluarga yang baik dan harmonis terjebak dalam gaya hidup yang salah. Hal ini dipengaruhi faktor-faktor lainnya.

*

Kondisi Lingkungan

Lingkungan turut mempengaruhi budaya barat. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, budaya ini cenderung berkembang pesat di kota-kota besar. Kondisi kota besar yang cepat mendapatka informasi baru, menyebabkan masyarakatnya lebih mudah terpengaruh. Ditambah dengan sistem hidup yang terbuka terhadap budaya asing. Namun saat ini, kondisi kota kecil dan perdesaan yang semakin maju memudahkan masuknya informasi-informasi baru. Budaya barat telah teradaptasi sedikit demi sedikit oleh masyarakatnya.

*

Pergaulan

Faktor yang paling mempengaruhi remaja dalam mengadaptasi budaya barat ialah teman pergaulan. Teman pergaulan ini biasanya merupakan teman sebaya. Bagi sebagian besar remaja, teman memiliki posisi yang lebih penting daripada orang tua. Teman merupakan tempat berbagi kesedihan dan kebahagiaan, tempat mencurahkan rahasia-rahasia dalam dirinya. Oleh karena itu, munculah suatu ikatan ketergantungan dengan teman.

Apabila teman-temannya mengajak kepada sesuatu yang baru, rasa keterikatan itu menghalangi remaja untuk menolak. Jika teman pergaulannya dapat memilah budaya yang baik untuk diadaptasi, hal ini akan menguntungkan diri mereka. Namun, jika teman pergaulannya tidak dapat bersikap bijak, remaja akan terbawa pada sesuatu yang negatif.

*

Perkembangan Teknologi dan Media Massa.

Perkembangan teknologi yang tidak pernah berhenti, memudahkan remaja dalam mengadaptasi budaya asing. Seperti pada penggunaan Internet, budaya yang berkembang di negara-negara barat dapat dengan cepat diketahui dan diserap oleh remaja. Begitu juga dengan perkembangan media massa. Televisi sebagai media penyampai pesan audio dan visual sering menampilkan tayangan yang telah mencampurkan budaya timur dan barat. Bahkan dalam sebagian tayangan, budaya timur telah hilang.

Tidak cukup hanya dengan media elektronik, media cetak pun turut mempropagandakan gaya hidu barat. Majalah dan tabloid remaja yang mendominasi di Indonesia sarat dengan nilai-nilai asing, juga perkembangan yang terjadi di luar negri.

Seorang peneliti bernama Dawyer Menyimpulkan, sebagai media visual, TV mampu merebut 94 % saluran masuknya pesan dan informasi kedalam jiwa manusia. TV mampu membuat orang pada umumnya mengingat 50 % dari yang mereka lihat dan dengar di TV, walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau, secara umum orang akan mengingat 85 % dari yang mereka lihat di TV setelah 3 jam kemudian, da 65 % setelah 3 hari kemudian ( Solihin, 2003 : 136 ). Hal ini akan sangat memudahkan remaja, yang daya ingatnya masih kuat, untuk mengadaptasi budaya barat.

C. Dampak Positif dan Negatif dari Perkembangan Budaya Barat

1. Dampak Positif.

*

Mengubah Sistem Belajar

Pola belajar yang monoton kini telah digantikan oleh system pembelajaran yang disebut dengan “Enjoy Learning”. Sistem ini telah diterapkan oleh banyak Sekolah di Indonesia. Melalui sistem ini, generasi muda dapat merasakan belajar sebagai suatu hal yang menyenangkan dan merupakan suatu kebutuhan.

*

Memudahkan Jalur Komunikasi dan Informasi.

Budaya barat yang masuk ke Indonesia telah membawa teknologi yang bermanfaat, seperti Televisi, Internet, dan Telepon selular. Jika pada zaman dahulu orang harus menunggu lama untuk mengetahui kejadian di Amerika Serikat , saat ini dapat dengan mudah dilihat di Televisi atau diakses melalui Internet. Untuk komunikasi jarak jauh, kita tidak perlu lagi kekantor pos untuk mengirim surat. Dengan menggunakan Telepon selular, dengan mudah seseurang dapat berkomunikasi dengan orang lain bahkan di Benua yang berbeda. Hal ini memperlancar komunikasi dan informasi di Indonesia.

*

Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Dengan adanya pengembangan system belajar serta lancarnya jalur komunikasi dan informasi, memudahkan generasi muda untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di negara lain. Sehingga akan dihasilkan genersai muda Indonesia yang cerdas untuk membangun bangsa.

2. Dampak Negatif

*

Perubahan Gaya Hidup Remaja.

Gaya hidup “hura-hura” sangat mendominasi dikalangan remaja barat. Namun, kebanyakan remaja telah mengadopsi gaya hidup ini. Hal ini tidak terbatas pada kota-kota besar, tapi sudah banyak remaja di kota-kota kecil yang merubah gaya hidup mereka. Remaja denga gay hidup “hura-hura” menjalani hidup sesuai dengan keinginan mereka. Mereka menghabiskan hidupnya untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan, berpesta pora, dan menghabiskan waktu dengan sia-sia.

*

Pergaulan Bebas.

Dalam pergaulan remaja barat, hampir tidak ada “batasan” antara pria dan wanita. Pacaran yang kemudian dilanjutkan dengan pelukan, ciuman, bahkan hubungan badan merupakan hal yang biasa. Dengan adanya pengaruh dari media yang sangat kuat,pergaulan bebas mulai marak dikalanga generasi muda Indonesia. Ironisnya budaya ini telah berkembang hingga kekota yang dikenal dengan julukan “kota pelajar”.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Penelitian Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) selam 3 tahun, mulai Juli 1999 hingga Juli 2002, dengan melibatkan sekitar 1.660 responden dari 16 Perguruan tinggi negeri dan swasta di Yogyakarta, diperoleh data bahwa 97,05 % mahasiswinya sudah kehilangan keperawanannya saat kuliah. ( Solihin , 2003 : 39).

Selain karena adanya dukungan media, hal ini juga disebabkan oleh suasana kos yang mendukung di Yogyakarta, yaitu tidak adanya kontrol oleh pemilik kos. Hal ini merupakan sebuah peringatan keras bagi bangsa Indonesia untuk memperbaiki kondisi generasi muda

*

Hilangnya Rasa Bangga Terhadap Budaya Timur.

Saat ini, hampir sebagian besar generasi muda telah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa timur. Hal ini terjadi karena tidak ada lagi rasa bangga terhadap budaya timur. Seorang remaja yang rajin belajar, menghabiskan waktu di perpustakaan dan di rumah, dan patuh pada orang tua dan guru dianggap sebagai orang yang norak, kuno, dan kurang pergaulan.

Sebaliknya, remaja yang nilai-nilainya rendah, menghabiska waktu di mal atau diskotek, melawan pada guru, berontak terhadap keinginan orang tua, dan yang menganut gaya hidup “hura-hura” dianggap sebagai dewa pergaulan. Sehingga banyak remaja yang merubah gaya hidupnya demi pergaulan ( Ilmi , 2007 : 16).

D. Penanggulangan Dampak Negatif Budaya Barat

Budaya Barat saat ini berkembang pesat di Indonesia, baik yang bersifat positif dan negatif sangat mudah diterima masyarakat, khususnya generasi muda. Pengaruh positif dan negatif ini telah dibahas pada subbab sebelumnya. Para orangtua sangat khawatir atas perkembangan pergaulan remaja saat ini. Oleh karena itu, sebagai generasi muda yang baik kita hendaknya tidak mengikuti budaya barat yang berdampak negatif.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, saat ini remaja yang tidak mengikuti perkembangan yang terjadi akan dianggap kuper atau tidak modern, tetapi remaja sekalian jangan takut karena tidak semua perkembangan yang ada berdampak baik. Untuk selanjutnya penulis akan memberikan solusi cara mengatasi pengaruh budaya Barat yang bersifat negatif, diantaranya sebagai berikut:

*

Remaja seharusnya dapat memilah dan menyaring perkembangan budaya saat ini, jangan menganggap semua pengaruh yang berkembang saat ini semuanya baik, karena belum pasti budaya barat tersebut diterima dan dianggap baik oleh Budaya Timur kita.
*

Para Orangtua sebaiknya lebih mendekatkan diri kepada anaknya, dan berusaha menjadi teman untuk anaknya sehingga dapat memberikan saran kepada anak, dan anak pasti akan merasa lebih dekat kepada Orangtua dan akan mengingat saran dari Orangtuanya tersebut.
*

Pemerintah lebih tegas terhadap peraturan, khususnya penyimpangan perilaku akibat pengaruh budaya asing.
*

Masyarakat hendaknya membantu pemerintah, dalam menanggulangi perkembangan budaya Barat yang bersifat negatif.

otonomi daerah

Otonomi daerah

Otonomi daerah dapat diartikan sebagai hak, wewenang, dan kewajiban yang diberikan kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Sedangkan yang dimaksud dengan daerah otonom yadalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.

Terdapat dua nilai dasar yang dikembangkan dalam UUD 1945 berkenaan dengan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, yaitu:

1. Nilai Unitaris, yang diwujudkan dalam pandangan bahwa Indonesia tidak mempunyai kesatuan pemerintahan lain di dalamnya yang bersifat negara ("Eenheidstaat"), yang berarti kedaulatan yang melekat pada rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia tidak akan terbagi di antara kesatuan-kesatuan pemerintahan; dan
2. Nilai dasar Desentralisasi Teritorial, dari isi dan jiwa pasal 18 Undang-undang Dasar 1945 beserta penjelasannya sebagaimana tersebut di atas maka jelaslah bahwa Pemerintah diwajibkan untuk melaksanakan politik desentralisasi dan dekonsentrasi di bidang ketatanegaraan. [1]

Dikaitkan dengan dua nilai dasar tersebut di atas, penyelenggaraan desentralisasi di Indonesia berpusat pada pembentukan daerah-daerah otonom dan penyerahan/pelimpahan sebagian kekuasaan dan kewenangan pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sebagian sebagian kekuasaan dan kewenangan tersebut. Adapun titik berat pelaksanaan otonomi daerah adalah pada Daerah Tingkat II (Dati II)[2]dengan beberapa dasar pertimbangan[3]:

1. Dimensi Politik, Dati II dipandang kurang mempunyai fanatisme kedaerahan sehingga resiko gerakan separatisme dan peluang berkembangnya aspirasi federalis relatif minim;
2. Dimensi Administratif, penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat relatif dapat lebih efektif;
3. Dati II adalah daerah "ujung tombak" pelaksanaan pembangunan sehingga Dati II-lah yang lebih tahu kebutuhan dan potensi rakyat di daerahnya.

Atas dasar itulah, prinsip otonomi yang dianut adalah:

1. Nyata, otonomi secara nyata diperlukan sesuai dengan situasi dan kondisi obyektif di daerah;
2. Bertanggung jawab, pemberian otonomi diselaraskan/diupayakan untuk memperlancar pembangunan di seluruh pelosok tanah air; dan
3. Dinamis, pelaksanaan otonomi selalu menjadi sarana dan dorongan untuk lebih baik dan maju

Aturan Perundang-undangan

Beberapa aturan perundang-undangan yang berhubungan dengan pelaksanaan Otonomi Daerah:

1. Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah
2. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
3. Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah
4. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
5. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
6. Perpu No. 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
7. Undang-Undang No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

Pelaksanaan Otonomi Daerah di Masa Orde Baru

Sejak tahun 1966, pemerintah Orde Baru berhasil membangun suatu pemerintahan nasional yang kuat dengan menempatkan stabilitas politik sebagai landasan untuk mempercepat pembangunan ekonomi Indonesia. Politik yang pada masa pemerintahan Orde Lama dijadikan panglima, digantikan dengan ekonomi sebagai panglimanya, dan mobilisasi massa atas dasar partai secara perlahan digeser oleh birokrasi dan politik teknokratis. Banyak prestasi dan hasil yang telah dicapai oleh pemerintahan Orde Baru, terutama keberhasilan di bidang ekonomi yang ditopang sepenuhnya oleh kontrol dan inisiatif program-program pembangunan dari pusat. Dalam kerangka struktur sentralisasi kekuasaan politik dan otoritas administrasi inilah, dibentuklah Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Mengacu pada UU ini, Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban Daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.[4] Selanjutnya yang dimaksud dengan Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah tertentu yang berhak, berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.[5]

Undang-undang No. 5 Tahun 1974 ini juga meletakkan dasar-dasar sistem hubungan pusat-daerah yang dirangkum dalam tiga prinsip:

1. Desentralisasi, penyerahan urusan pemerintah dari Pemerintah atau Daerah tingkat atasnya kepada Daerah menjadi urusan rumah tangganya;[6]
2. Dekonsentrasi, pelimpahan wewenang dari Pemerintah atau Kepala Wilayah atau Kepala Instansi Vertikal tingkat atasnya kepada Pejabat-pejabat di daerah;[7] dan
3. Tugas Pembantuan (medebewind), tugas untuk turut serta dalam melaksanakan urusan pemerintahan yang ditugaskan kepada Pemerintah Daerah oleh Pemerintah oleh Pemerintah Daerah atau Pemerintah Daerah tingkat atasnya dengan kewajiban mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya.[8]

Dalam kaitannya dengan Kepala Daerah baik untuk Dati I (Propinsi) maupun Dati II (Kabupaten/Kotamadya), dicalonkan dan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari sedikit-dikitnya 3 (tiga) orang dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang calon yang telah dimusyawarahkan dan disepakati bersama antara Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah/Pimpinan Fraksi-fraksi dengan Menteri Dalam Negeri,[9] untuk masa jabatan 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya,[10] dengan hak, wewenang dan kewajiban sebagai pimpinan pemerintah Daerah yang berkewajiban memberikan keterangan pertanggungjawaban kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sekurang-kurangnya sekali setahun, atau jika dipandang perlu olehnya, atau apabila diminta oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, serta mewakili Daerahnya di dalam dan di luar Pengadilan.[11]

Berkaitan dengan susunan, fungsi dan kedudukan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, diatur dalam Pasal 27, 28, dan 29 dengan hak seperti hak yang dimiliki oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (hak anggaran; mengajukan pertanyaan bagi masing-masing Anggota; meminta keterangan; mengadakan perubahan; mengajukan pernyataan pendapat; prakarsa; dan penyelidikan),[12] dan kewajiban seperti a) mempertahankan, mengamankan serta mengamalkan PANCASILA dan UUD 1945; b)menjunjung tinggi dan melaksanakan secara konsekuen Garis-garis Besar Haluan Negara, Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat serta mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku; c) bersama-sama Kepala Daerah menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah dan peraturan-peraturan Daerah untuk kepentingan Daerah dalam batas-batas wewenang yang diserahkan kepada Daerah atau untuk melaksanakan peraturan perundangundangan yang pelaksanaannya ditugaskan kepada Daerah; dan d) memperhatikan aspirasi dan memajukan tingkat kehidupan rakyat dengan berpegang pada program pembangunan Pemerintah.[13]

Dari dua bagian tersebut di atas, nampak bahwa meskipun harus diakui bahwa UU No. 5 Tahun 1974 adalah suatu komitmen politik, namun dalam prakteknya yang terjadi adalah sentralisasi (baca: kontrol dari pusat) yang dominan dalam perencanaan maupun implementasi pembangunan Indonesia. Salah satu fenomena paling menonjol dari pelaksanaan UU No. 5 Tahun 1974 ini adalah ketergantungan Pemda yang relatif tinggi terhadap pemerintah pusat.
[sunting] Pelaksanaan Otonomi Daerah setelah Masa Orde Baru

Upaya serius untuk melakukan desentralisasi di Indonesia pada masa reformasi dimulai di tengah-tengah krisis yang melanda Asia dan bertepatan dengan proses pergantian rezim (dari rezim otoritarian ke rezim yang lebih demokratis). Pemerintahan Habibie yang memerintah setelah jatuhnya rezim Suharto harus menghadapi tantangan untuk mempertahankan integritas nasional dan dihadapkan pada beberapa pilihan yaitu[14]:

1. melakukan pembagian kekuasaan dengan pemerintah daerah, yang berarti mengurangi peran pemerintah pusat dan memberikan otonomi kepada daerah;
2. pembentukan negara federal; atau
3. membuat pemerintah provinsi sebagai agen murni pemerintah pusat.

Pada masa ini, pemerintahan Habibie memberlakukan dasar hukum desentralisasi yang baru untuk menggantikan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974, yaitu dengan memberlakukan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Beberapa hal yang mendasar mengenai otonomi daerah dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang sangat berbeda dengan prinsip undang-undang sebelumnya antara lain :

1. Dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 pelaksanaan otonomi daerah lebih mengedepankan otonomi daerah sebagai kewajiban daripada hak, sedang dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 menekankan arti penting kewenangan daerah dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat melalui prakarsanya sendiri.
2. Prinsip yang menekankan asas desentralisasi dilaksanakan bersama-sama dengan asas dekonsentrasi seperti yang selama ini diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tidak dipergunakan lagi, karena kepada daerah otonom diberikan otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Hal ini secara proporsional diwujudkan dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. Di samping itu, otonomi daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi yang juga memperhatikan keanekaragaman daerah.
3. Beberapa hal yang sangat mendasar dalam penyelenggaraan otonomi daerah dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, adalah pentingnya pemberdayaan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas mereka secara aktif, serta meningkatkan peran dan fungsi Badan Perwakilan Rakyat Daerah. Oleh karena itu, dalam Undang-undang ini otonomi daerah diletakkan secara utuh pada daerah otonom yang lebih dekat dengan masyarakat, yaitu daerah yang selama ini berkedudukan sebagai Daerah Tingkat II, yang dalam Undang-undang ini disebut Daerah Kabupaten dan Daerah Kota.
4. Sistem otonomi yang dianut dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab, dimana semua kewenangan pemerintah, kecuali bidang politik luar negeri, hankam, peradilan, moneter dan fiskal serta agama dan bidang- bidang tertentu diserahkan kepada daerah secara utuh, bulat dan menyeluruh, yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
5. Daerah otonom mempunyai kewenangan dan kebebasan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat. Sedang yang selama ini disebut Daerah Tingkat I atau yang setingkat, diganti menjadi daerah propinsi dengan kedudukan sebagai daerah otonom yang sekaligus wilayah administrasi, yaitu wilayah kerja Gubernur dalam melaksanakan fungsi-fungsi kewenangan pusat yang didelegasikan kepadanya.
6. Kabupaten dan Kota sepenuhnya menggunakan asas desentralisasi atau otonom. Dalam hubungan ini, kecamatan tidak lagi berfungsi sebagai peringkat dekonsentrasi dan wilayah administrasi, tetapi menjadi perangkat daerah kabupaten/kota. Mengenai asas tugas pembantuan dapat diselenggarakan di daerah propinsi, kabupaten, kota dan desa. Pengaturan mengenai penyelenggaraan pemerintahan desa sepenuhnya diserahkan pada daerah masing-masing dengan mengacu pada pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah.
7. Wilayah Propinsi meliputi wilayah laut sepanjang 12 mil dihitung secara lurus dari garis pangkal pantai, sedang wilayah Kabupaten/Kota yang berkenaan dengan wilayah laut sebatas 1/3 wilayah laut propinsi.[15]
8. Pemerintah Daerah terdiri dari Kepala Daerah dan perangkat daerah lainnya sedang DPRD bukan unsur pemerintah daerah. DPRD mempunyai fungsi pengawasan, anggaran dan legislasi daerah. Kepala daerah dipilih dan bertanggung jawab kepada DPRD. Gubernur selaku kepala wilayah administratif bertanggung jawab kepada Presiden.
9. Peraturan Daerah ditetapkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD sesuai pedoman yang ditetapkan Pemerintah, dan tidak perlu disahkan oleh pejabat yang berwenang.
10. Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi, potensi daerah, sosial budaya, sosial politik, jumlah penduduk, luas daerah, dan pertimbangannya lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah, daerah, daerah yang tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan daerah lain. Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu daerah, yang ditetapkan dengan undang-undang.
11. Setiap daerah hanya dapat memiliki seorang wakil kepala daerah, dan dipilih bersama pemilihan kepala daerah dalam satu paket pemilihan oleh DPRD.
12. Daerah diberi kewenangan untuk melakukan pengangkatan, pemindahan, pemberhentian, penetapan pensiun, pendidikan dan pelatihan pegawai sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah, berdasarkan nama, standar, prosedur yang ditetapkan pemerintah.
13. Kepada Kabupaten dan Kota diberikan otonomi yang luas, sedang pada propinsi otonomi yang terbatas. Kewenangan yang ada pada propinsi adalah otonomi yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota, yakni serangkaian kewenangan yang tidak efektif dan efisien kalau diselenggarakan dengan pola kerjasama antar Kabupaten atau Kota. Misalnya kewenangan di bidang perhubungan, pekerjaan umum, kehutanan dan perkebunan dan kewenangan bidang pemerintahan tertentu lainnya dalam skala propinsi termasuk berbagai kewenangan yang belum mampu ditangani Kabupaten dan Kota.
14. Pengelolaan kawasan perkotaan di luar daerah kota dapat dilakukan dengan cara membentuk badan pengelola tersendiri, baik secara intern oleh pemerintah Kabupaten sendiri maupun melalui berkerjasama antar daerah atau dengan pihak ketiga. Selain DPRD, daerah juga memiliki kelembagaan lingkup pemerintah daerah, yang terdiri dari Kepala Daerah, Sekretariat Daerah, Dinas-Dinas Teknis Daerah, Lembaga Staf Teknis Daerah, seperti yang menangani perencanaan, penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan, pengawasan dan badan usaha milik daerah. Besaran dan pembentukan lembaga-lembaga itu sepenuhnya diserahkan pada daerah. Lembaga pembantu Gubernur, Pembantu Bupati/Walikota, Asisten Sekwilda, Kantor Wilayah dan Kandep dihapus.
15. Kepala Daerah sepenuhnya bertanggung jawab kepada DPRD, dan DPRD dapat meminta Kepala Daerahnya berhenti apabila pertanggungjawaban Kepala daerah setelah 2 (dua) kali tidak dapat diterima oleh DPRD.

[sunting] Referensi

1. ^ UUD 1945 pasal 18 ayat 2
2. ^ UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab III, Bagian Kedua, Pasal 11
3. ^ Kuncoro (2004), Otonomi dan Pembangunan Daerah; Reformasi, Perencanaan, Strategi dan Peluang, Jakarta: Penerbit Erlangga
4. ^ UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab I, Pasal 1, huruf c
5. ^ UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab I, Pasal 1, huruf e
6. ^ UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab I, Pasal 1, huruf b
7. ^ UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab I, Pasal 1, huruf f
8. ^ UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab I, Pasal 1, huruf d
9. ^ UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab III, Bagian Kelima, Paragrap 1, Pasal 15(1) dan Pasal 16(1)
10. ^ UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab III, Bagian Kelima, Paragrap 1, Pasal 17
11. ^ UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab III, Bagian Kelima, Paragrap 2, Pasal 22 dan Pasal 23
12. ^ UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab III, Bagian Ketujuh, Paragrap 2, Pasal 29
13. ^ UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab III, Bagian Ketujuh, Paragrap 2, Pasal 30
14. ^ Kuncoro (2004), Otonomi dan Pembangunan Daerah; Reformasi, Perencanaan, Strategi dan Peluang, Jakarta: Penerbit Erlangga
15. ^ UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, Bab III, Pasal 18(4)

[sunting] Pranala luar

* Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
* Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
* Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
* Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah
* Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
* Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah