Kamis, 10 Maret 2011

softskill 2

Nama : Winda Listianingrum
Kelas : 3EA10
NPM : 11208290

Direktur Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar menilai tak ada masalah dengan isi BlackBerry Mesengger (BBM) antara Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana dengan istri Gayus Tambunan, Milana Anggraeini.

“Bahasa dan isi BBM itu kan meminta agar Milana berkata jujur,” kata Zainal dalam perbincangan dengan VIVAnews, Jumat malam. Sehingga dia menilai pengacara Gayus dan istrinya, Hotma Sitompoel berlebihan.

Menurutnya, Milana dan Gayus memang harus jujur dan membuka semua yang mereka ketahui terkait mafia pajak, hukum, bahkan pelesir ke beberapa negara. “Saya malah mempertanyakan untuk apa pengacara membuka percakapan kliennya?” kata dia.

Kemarin, Hotma membuka isi BBM antara kliennya Milana dan Denny. Dia menilai Satgas seharusnya tidak lagi berkomunikasi dengan tersangka dan keluarganya.

EYD yang benar :
Direktur Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar menilai tak ada masalah dengan isi BlackBerry Mesengger (BBM) antara Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana dengan istri Gayus Tambunan, Milana Anggraeini.
Menurut Zainal, Milana dan Gayus memang harus jujur dan membuka semua yang mereka ketahui terkait mafia pajak, hukum, bahkan pelesir ke beberapa negara.
Kemarin, Hotma membuka isi BBM antara kliennya Milana dan Denny. Dia menilai Satgas seharusnya tidak lagi berkomunikasi dengan tersangka dan keluarganya.

softskill 2

Nama : Winda Listianingrum
Kelas : 3EA10
NPM : 11208290

“Saya kira pesan itu nyaring, melengking. Bahkan hampir seperti akan memecahkan kaca-kaca rumah,” kata Daniel usai diskusi Polemik Trijaya, di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu 15 Januari 2011.

Sebenarnya, menurut Daniel, Presiden SBY sudah berulang kali memberikan reaksi atas penuntasan kasus Gayus dan perkara mafia pajak lainnya. Salah satunya, kata dia, memberi arahan pada rapat kabinet yang digelar di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, kemarin.

“Agendanya tunggal yaitu presiden menerima laporan tetapi juga memberi arahan yang diharap ada tindak lanjut segera atas kasus Gayus yang dianggap oleh publik kurang cepat. Bahkan kurang cekatan,” kata Daniel.

Artinya, sambung Daniel, Presiden meminta aparat penegak hukum segera tuntaskan kasus Gayus. “Pada dua lembaga hukum yang berada di bawah yurisdiksi pemerintah, kepolisian dan kejaksaan.”

Dia meminta rapat kabinet di Halim dipahami sebagai tanda bahwa presiden memberikan perhatian besar terhadap penuntasan kasus Gayus. “Yang memenuhi prinsip kesegeraan, urgensi, tetapi juga mendesak agar langkah-langkah konkrit itu muncul dan diketahui publik, dirasakan publik, dan dilihat bahwa itu memang betul nyata,” kata Daniel.

EYD yang benar :

“Saya kira pesan itu nyaring, melengking. Bahkan hampir seperti akan memecahkan kaca-kaca rumah,” kata Daniel usai diskusi Polemik Trijaya, di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu 15 Januari 2011.

Sebenarnya, menurut Daniel, Presiden SBY sudah berulang kali memberikan reaksi atas penuntasan kasus Gayus dan perkara mafia pajak lainnya.
Dia meminta rapat kabinet di Halim dipahami sebagai tanda bahwa presiden memberikan perhatian besar terhadap penuntasan kasus Gayus. “Yang memenuhi prinsip kesegeraan, urgensi, tetapi juga mendesak agar langkah-langkah konkrit itu muncul dan diketahui publik, dirasakan publik, dan dilihat bahwa itu memang betul nyata,” kata Daniel.

Selasa, 01 Maret 2011

Perbedaan Karangan Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non-Ilmiah

Tugas sofskill 2
Nama : Winda listianingrum
Npm : 11208290
Kelas : 3EA10
Mata kuliah : Bahasa Indonesia 2

Perbedaan Karangan Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non-Ilmiah

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Langkah terakhir adalah perorganisasian karangan. Dalam hal ini tujuan dan bahan penulisan turut menentukan bentuknya. Organisasi karangan pada umumnya mengikuti pola ilustratif, analitis atau argumentative.
Untuk menentukan organisasi itu, mula-mula kita menyusun suatu kerangan (outline) karangan. Menyusun kerangka karangan berarti memecahkan topik ke dalam subtopik dan mungkin selanjutnya akan kedalam sub-topik lainnya. Kerangka itu mungkin berbentuk kerangka topik atau kerangka kalimat. Namun dalam pembahasaan disini saya lebih mencodong terhadap perbedaan karangan, itu sedikit ulasan tentang kerangka karangan. Sebelumnya, anda mengetahui perbedaan dari tema dan judul karangan, karena sebagian orang yang awam dalam tema dan judul disama artikan. Dibawah ini jelaskan perbedaan anatara judul dengan tema :
• Tema merupakan masalah, persoalan, gagasan, pikiran, atau ide utama, yang dikembangkan dalam tulisan. Tema harus ditentukan sebelum menulis. Dengan demikian tema menjiwai seluruh tulisan.
• Judul bukan merupakan masalah pokok atau ide karangan. Judul hanyalah sekedar nama karangan. Istilah lainnya adalah kepala karangan. Judul tidak harus ditetapkan sebelum menulis, tetapi dapat ditentukan setelah karangannya selesai. Jika tema bersifat mengikat, judul bersifat bebas. Akan tetapi, yang perlu diingat bahwa judul sebaiknya berhubungan dengan tema. Syarat umum secara umum adalah singkat, jelas, menarik, dan mebanyangkan isi karangan.
1.2 Masalah

1. Apa pengertian karangan ilmiah, semi ilmiah, dan non-ilmiah?
2. Apa ciri-ciri karangan ilmiah, semi ilmiah, dan non-ilmiah?
3. Apa jenis-jenis karangan?

BAB 2 LANDASAN TEORI
Karangan berdasarkan penyajiannya :
1. Karangan Narasi
Menceritakan suatu peristiwa /kejadian, ada tokoh alur dan suasana.
Contoh : Cinta tahu bahwa Agung membutuhkan pertolongan seseorang. Andre masih menimbang-nimbang haruskah aku menolongnya? Bagaimana dengan Ibunya? Masih mengiang-ngiang ditelinganya saat Bu Ardan (Ibu Agung) melarang dan mengusirnya supaya tidak bermain lagi dengan anaknya, Agung.Untunglah, keluarga Andre segera pindah rumah.
2. Karangan argumentasi
Pendapat atau ide untuk membuktikan kebenaran, adanya kesimpulan.
Contoh : memelihara ayam itu sangat mudah bukti bahwa memelihara ayam itu mudah dapat dilihar dengan menjamurnya peternakan ayam dibeberapa daerah banyak orang yang berhasil dalam beternak ayam. Memelihara ayam tidak banyak gangguan berarti. Adapun munculnya beberapa penyakit atau gangguan kecil lainnya, anggaplah sebagai variasi untuk usaha peternakan ayam ke arah yang lebih maju.
3. Karangan eksposisi
Memaparkan atau merinci informasi data dan fakta diakhir paragraf penegasan
Contoh : kebutuhan benih padi bersertifikat label biru secara nasional makin tahun makin meningkat. Benih padi bersertifikat label biru yang mempunyai daya saing yang tinggi terhadap jenis benih lain. Panen padi sebagai hasil dan benih padi bersertifikat label biru itu meningkat sampai 9,57% dari pada benih yang tidak bersertifikat label biru.
4. Karangan persuasi
Mengajak dan mempengaruhi pembaca.
Contoh : disiplin adalah salah satu faktor penunjang yang paling pokok dalam mencapai keteraturan hidup. Buatlah jadwal kegiatan setiap harinya. Taatilah semua jadwal yang telah disusun. Kita ambil contoh misalnya, bangun tidur pukul berapa, berangkat sekolah pukul berapa, tidur siang pukul berapa, dan jangan lupa waktu main pun harus ada. Kita memang perlu rileks sekedar mengurangi stress.
Adapun 3 jenis karangan non ilmiah, semi ilmiah dan ilmiah ;
1. Non Ilmiah (Fiksi) adalah Satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dan sebagai berikut.
2. Semi Ilmiah adalah sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannyapun tidak semi formal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis analitis karena sering di masukkan karangan non-ilmiah. Maksud dari karangan non-ilmiah tersebut ialah karena jenis Semi Ilmiah memang masih banyak digunakan misal dalam komik, anekdot, dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen.
Karakteristiknya : berada diantara ilmiah.
3. Ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodolog penulisan yang baik dan benar. Adapun jenis karangan ilmiah yaitu:
• Makalah: karya tulis yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif (menurut bahasa, makalah berasal dari bahasa Arab yang berarti karangan).
• Kertas kerja: makalah yang memiliki tingkat analisis lebih serius, biasanya disajikan dalam lokakarya.
• Skripsi: karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasar pendapat orang lain.
• Tesis: karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam daripada skripsi.
• Disertasi: karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta yang sahih dengan analisis tang terinci.
Berikut contoh-contoh dari wancana ilmiah, semi ilmiah dan non ilmiah ;
CONTOH WACANA ILMIAH:
Linguistik dewasa ini berkembang dengan pesat. Perkembangan tersebut dapat dilihat dari kian banyaknya teori dan penelitian yang telah dihasilkan serta munculnya bermacam gerakan dan aliran. Perkembangan teori-teori tersebut merata pada pelbagai cabang-cabang linguistik, seperti pada fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, juga pragmatik. Bukan itu saja, penelitian-penelitian yang dilahirkan dari perkembangan teori tersebut pula semarak dan tumbuh bak jamur di musim hujan. Perkembangan teori dan makin banyaknya penelitian yang dihasilkan itu tidak terlepas dari gerakan dan aliran yang memayungi dan menyemarakkan dunia linguistik.
Penerbitan dan pengedaran buku-buku serta karya-karya tentang linguistik juga ikut berperan dalam penyebaran dan pengembangan linguistik. Karya de Saussure Course in General Linguistics, dapat dikatakan menjadi pemicu tumbuh dan berkembangnya linguistik.
Praktik-praktik linguistik sampai dengan tahun 60-an dapat ditandai dengan adanya generalisasi induktif dalam penyelidikan ilmiah. Dengan kata lain, data-data kebahasaan diamati lebih dahulu kemudian disusunlah teori berdasarkan organisasi data tersebut. Namun, hal itu tidak selamanya dilakukan. Dalam penyelidikan linguistik kini, pengamatan juga sarat dengan teori, selain deskripsi dan analisis.
Dalam penelitian ilmiah ada baiknya konsep-konsep yang melatarbelakangi penelitian linguistik tersebut dibedakan sehingga kita dapat melihat secara tajam perbedaan-perbedaan konseptual di balik pemakaian istilah itu. Konsep-konsep tersebut seperti teori, paradigma, tendensi, aliran, dan gerakan. Hal tersebut dimaksudkan agar peneliti mengetahui posisi dan sikapnya dalam kegiatan penelitian.
Untuk mendapatkan pengertian dari teori, paradigma, tendensi, aliran, dan gerakan di atas, berikut ini akan dijelaskan perbedaannya secara singkat. Teori merupakan sistem yang makin abstrak yang menghasilkan penjelasan, prediksi, rekonstruksi, interpretasi, evaluasi, dan dapat merumuskan kaidah atau hukum. Menurut Verhaar (dalam Sutami, 2001) teori dapat dibagi menjadi dua, yaitu teori yang kurang abstrak dan teori yang abstrak. Teori yang kurang abstrak merupakan ringkasan data dan uraian prosedur penemuan. Teori yang abstrak tidak diperoleh dari data saja, tetapi juga dari penalaran logis, matematis, bahkan juga dapat berdasarkan intuisi peneliti dengan kerangka rujukan tertentu.
Paradigma ialah prestasi ilmiah yang diakui pada suatu masa sebagai model untuk memecahkan maslaah ilmiah. Paradigma bisa disebut sebagai norma ilmiah. Suatu penelitian yang tidak menggunakan paradigma yang berlaku pada masa tertentu, maka penelitian itu dikatakan tidak ilmiah. Pada tahun 60-an misalnya, paradigma yang menonjol adalah positivisme (objek penelitian terlepas dari subjek). Contoh lain adalah paradigma Plato (bahasa adalah fisei) dan Aristoteles (bahasa adalah tisei).
Tendensi ialah nuansa berpikir yang nampak pada karya-karya ilmiah tertentu yang berasal dari ilmu atau pandangan di luar linguistik. Tendensi itu berupa pengaruh lain di dalam linguistik dan mewarnai cara berpikir sarjana tersebut. Misalnya, karya-karya Chomsky yang bertendensi psikologisme, atau Pike yang bertendensi antropologisme.
Aliran adalah kumpulan sarjana yang berpengaruh pada ajaran atau guru yang sama. Ajaran itu dikembangkan oleh seseorang atas dasar falsafah teori yang dianutnya. Ajaran itu kemudian dikembangkan dan diikuti orang lain sehingga menjadi aliran. Contoh: aliran Transformasi Generatif merupakan kumpulan sarjana yang berpegang pada ajaran dari Chomsky. Aliran Praha (Trubetzkoy), aliran Tegmemik (Pike).
Gerakan adalah cara berpikir yang tidak diarahkan oleh tokoh atau kelompok tertentu yang menajdi dasar menyeluruh kegiatan ilmiah tertentu bagi aliran atau tokoh yang berlainan. Gerakan bisa berupa teori, falsafah, atau pandangan umum yang memayungi aliran tertentu. Mislanya, gerakan Generativisme memayungi aliran Transformasi Generatif.
CONTOH WACANA SEMI ILMIAH:
Jadikanlah suatu keyakinan bahwa,”Apa yang tuan cita-citakan pasti tercapai, dan apa yang tuan usahakan pasti . Contoh wacana semi ilmiah KELAPARAN JADI PERHATIAN SERIUS
CONTOH WACANA NON ILMIAH:
Tanggerang, KOMPAS Kantor bea dan cukai bandara Soekarna-Hatta, Jakarta. Kembali manggalkan upaya penyelundupan sabu dari Iran ke Indonesia. Sebanyak 9.56 kilogram sabu seharga Rp 20 milliaritu dikirim melaluipaket kargo oleh MK (Iran). Sabu tersebut dimasukan kedalam rongga aneka hiasan dari atu marmer impor. Modus yang digunakan tersangka ini cukup fantastis. Sabu dipadatkan dan dimasukan dibagian tengah pajangan atau rongga hiasan yang terbuat dari marmer,sepeeti pajangan granit, pajangan marmer dan miniature air terjun sebagai stone. Paket tersebut dikrim dengan pesawat Etihad Airways. Dikarenakan sabu masuk dalam kategori narkotika golongan I, tersangaka melanggar Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang psikotropika, dan tersangak terancam pidana 20 tahun penjara dan denda maksimum Rp 10 milliar.
BAB 3 PENUTUP
SIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut
Karangan ilmiah yakni (menyajikan fakta umum) fakta yang semua orang mengetahuinya namun disajikan dengan berbeda. Karangan non ilmiah yakni (secara pribadi pemikiran fakta), namun terbagi ada ilmiah (biografi, autobiografi) dan non ilmiah (novel, cerpen, puisi). Sedangakan semi ilmiah (termasuk karangan popular) seperti opini, tips, editorial dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
• 20 februari 2011. “Perbedaan Karangan”. URL : http://indonesialanguage.blogspot.com/2008/03/materi-bahasa-indonesia_6471.html
• Gina, wati. 20 Februari 2011. “Wancana Ilmiah, Semi Ilmiah dan Non Ilmiah”. URL : www.dunia-sista.blogspot.com
• Lutfie. 20 Februari 2011. “Perbedaaan Karangan Ilmiah, Semi Ilmiah dan Non ilmiah”. URL : www.loetfhie.blogspot.com
• RN, Tri, Wahyu. Februari 2006. “Bahasa Indonesia”. Universitas Gunadarma, Jakarta.

PENALARAN

Tugas sofskill 2
Nama : Winda listianingrum
Npm : 11208290
Kelas : 3EA10
Mata kuliah : Bahasa Indonesia 2

Penalaran
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Setiap saat selama hidup kita, terutama dalam keadaan jaga (tidak tidur), kita selalu berpikir. Berpikir merupakan kegiatan mental. Pada waktu kita berpikir, dalam benak kita timbul serangkaian gambar tentang sesuatu yang tidak hadir secara nyata. Kegiatan ini mungkin tidak terkendali, terjadi dengan sendirinya, tanpa kesadaran, misalnya pada saat-saat kita melamun. Kegiatan berpikir yang lebih tinggi dilakukan secara sadar, tersusun dalam urutan yang saling berhubungan, dan bertujuan untuk sampai kepada suatu kesimpulan. Jenis kegiatan berpikir vang terakhir inilah yang disebut kegiatan bernalar.
Berdasarkan uraian di atas, dapatlah dicatat bahwa proses bernalar atau singkatnya penalaran merupakan proses berpikir yang sistematik untuk memperolch kesimpulan berupa pengetahuan. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah. Dari prosesnya, penalaran itu dapat dibedakan sebagai penalaraninduktif dandeduktif. Penalaran ilmiah mencakup kedua proses penalaran itu.
1.2 MASALAH
a. Apa yang dimaksud dengan penalaran ?
b. apa saja metode penalaran ?
c. apa saja faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya salah nalar?
BAB 2 LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
2.2 Metode Penalaran
Ada dua jenis metode dalam penalaran atau menalar antara lain :
2.2.1 Metode penalaran induktif adalah adalah suatu penalaran yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.
Jenis-jenis penalaran induktif adalah :
Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
• Tamara Bleszynski adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
• Nia Ramadhani adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Generalisasi: Semua bintang sinetron berparas cantik.
Pernyataan “semua bintang sinetron berparas cantik” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya:
Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.

Macam-macam generalisasi
Generalisasi sempurna
Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
Contoh: sensus penduduk
Generalisasi tidak sempurna
Adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantalon.
Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna
Generalisasi yang tidak sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar.
Prosedur pengujian atas generalisasi tersebut adalah:
1. Jumlah sampel yang diteliti terwakili.
2. Sampel harus bervariasi.
3. Mempertimbangkan hal-hal yang menyimpang dari fenomena umum/ tidak umum.

Kausalitas
Kausalitas merupakan perinsip sebab-akibat yang dharuri dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.

Analogi
Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses morfologi dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah ada. Contohnya pada kata dewa-dewi, putra-putri, pemuda-pemudi, dan karyawan-karyawati.

2.2.2 Metode penalaran deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.

Macam-Macam Silogisme :
1. Silogisme Kategorial adalah silogisme yang disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.
2. Silogisme Hipotesis adalah silogisme yang memiliki premis mayor berupa proposisi hipotetis (jika), sementara premis minor dan kesimpulannya berupa proposisi kategoris.
3. Silogisme Alternative adalah Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain.

Entimem merupakan bentuk singkat silogisme dengan jalan mengubah format yang disederhanakan, tanpa menampilkan premis mayor. Bentuk silogisme ini bisa dimunculkan dalam dua cara: 1) C=B karena C=A, dan 2) Karena C=A, berarti C=B. Bentuk penalaran ini bisa dikembangkan dalam format yang lebih detail bagian per bagian yang akan memperbanyak gagasan dan konsep. Hubungan logis memegang peran utama dalam penalaran tipe ini. Pada umumnya entimem dimulai dari kesimpulan, hanya saja ada alternatif mengemukakan sebab untuk sampai kepada kesimpulan.


2.3 FAKTOR-FAKTOR TERJADINYA SALAH MENALAR
Gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat disebut salah nalar. Salah nalar ini disebabkan karena ketidaktepatan orang mengikuti tata cara pikirannya. Apabila kita perhatikan beberapa kalimat dalam bahasa Indonesia secara cermat, kadang-kadang kita temukan beberapa pernyataan atau premis tidak masuk akal. Kalimat-kalimat yang seperti itu disebut kalimat dari hasil salah nalar.
Faktor-faktor yang meyebabkan salah nalar, yaitu sebagai berikut:
*Deduksi yang salah
Salah nalar yang disebabkan oleh deduksi yang salah merupakan salah nalar yang amat sering dilakukan seseorang. Hal ini terjadi karena orang salah mengambil simpulan dari suatu silogisme dengan diawali oleh premis yang salah atau tidak memenuhi syarat. Beberapa salah nalar jenis ini adalah sebagai berikut:
1. Pak Radi tidak dapat dipilih sebagai Lurah di sini karena dia miskin.
2. Dia pasti cepat mati karena dia menderita penyakit jantung.
*Generalisasi Terlalu Luas
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak seimbang dengan besarnya generalisasi itu sehingga simpulan yang diambil menjadi salah. Beberapa salah nalar jenis ini adalah sebagai berikut:
1.Gadis Bandung cantik-cantik.
2.Kuli pelabuhan jiwanya kasar.
*Pemilihan Terbatas Pada Dua Alternatif
Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan “itu” atau “ini”
Beberapa penalaran yang salah seperti itu adalah sebagai berikut:
1.Engkau harus mengikuti kehendak ayah atau engkau berangkat dari rumah ini.
2.Dia membakar rumahnya agar kejahatannya tidak ketahuan orang.
*Penyebaban yang salah nilai
Salah nalar jenis ini disebabkan karena kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadi pergeseran maksud. Orang tidak menyadari bahwa yang dikatakan itu adalah salah. Beberapa salah nalar yang termasuk jenis ini adalah sebagai berikut:
1.Matanya buta sejak beberapa waktu yang lalu. Itu tandanya dia melihat gerhana matahari total.
2.Sejak ia memperhatikan dan membersihkan kuburan leluhurnya dia hamil.

BAB 3 PENUTUP
KESIMPULAN
Dari hasil penulisan diatas mengenai penalaran dapat di simpulkan bahwa penalaran adalah Penalaran merupakan proses berpikir menurut alur kerangka berpikir tertentu, merupakan kunci pembuka gerbang ke arah kemajuan seperti apa yang dicapai oleh manusia sekarang ini. Penalaran hanya terkait dengan berpikir sadar dan aktif, dan mempunyai karakteristik tertentu untuk menemukan kebenaran.

DAFTAR PUSTAKA
1. www.id.wikipedia.com
2. www.id.wordpress.com
3. www.google.com

Minggu, 28 November 2010

KELAS SOSIAL DAN PERILAKU KONSUMEN ATAS RELEVANSI DARI KELAS DAN STATUS

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, beberapa kontribusi literatur pemasaran muncul yang menunjukkan pentingnya kelas sosial untuk memahami perilaku konsumen.Awal tulisan ini menarik berat pada konsepsi Warner kelas sosial - satu yang berfokus terutama pada posisi dan prestise keluarga dalam relatif kecil, masyarakat mandiri. Hubungan antara kelas sosial dan perilaku konsumen yang telah digariskan oleh individu-individu seperti Martineau (1958), Coleman (1960), dan Levy (1966) adalah satu agak luas variasi menekankan nilai-nilai, gaya hidup, dan tujuan konsumsi umum.Banyak temuan disajikan berdasarkan sintesis studi kepemilikan dan bukti-bukti kuantitatif sehingga sebenarnya jarang disertakan.

Bunga di daerah ini subjek yang luas terus berlanjut sampai tahun 1960-an dan 1970-an, meskipun dengan orientasi yang agak berbeda.Untuk itu pada waktu yang sama bahwa penelitian segmentasi adalah semakin penting, dan studi kelas sosial dalam pemasaran sebagian besar dialihkan ke dalam aliran penelitian. Untuk menyederhanakan agak, orang mungkin mengatakan bahwa dalam pencarian untuk berhubungan unggul yang disebut dengan perilaku pembelian, kelas sosial dianggap sebagai calon mungkin. Lebih khusus lagi, beberapa berpendapat bahwa kelas sosial akan terbukti unggul untuk pendapatan sebagai dasar segmentasi. Dengan demikian masalah kelas sosial vs pendapatan muncul, dan dalam jangka waktu beberapa tahun tentang artikel selusin muncul dalam literatur pemasaran yang bergabung perdebatan (misalnya, Wasson 1969; Myers, Stanton, dan Haug 1971; Myers dan Mount 1973; Hisrich dan Peters 1974). Kelas sosial dasar vs masalah pendapatan tetap berkabut selama tujuh puluhan, dan kepentingan akhirnya berkurang.

Meskipun penerapan langsung teori kelas sosial untuk perilaku konsumen mungkin tampak sedikit dalam beberapa tahun terakhir, kegunaan konsep terus ditunjukkan.Ada arus beberapa penelitian - simbolisme konsumsi (Levy 1981; Belk, Mayer, dan Bahn 1982; Salomo 1983), dampak dari peran perempuan pada konsumsi (Schaninger dan Allen 1981; Reilly 1982), dan konteks budaya konsumsi (Reilly dan Rathie 1985; Hirschman 1985; McCracken 1986) - yang menggunakan atau memperluas konsep stratifikasi. Kemudahan jelas dengan kelas sosial yang dimasukkan oleh upaya penelitian ini dan lainnya menunjukkan konsep adalah salah satu yang mungkin berharga, tetapi juga tunduk pada berbagai penafsiran.

Upaya untuk menerapkan teori stratifikasi lebih langsung dan tepat menjadi semakin umum. Dalam kebangkitan sederhana yang menarik, salah satu kelas sosial menemukan masalah vs pendapatan telah ditinjau kembali, hanya kali ini dengan kecanggihan lebih besar dan kekakuan metodologis (Schaninger 1981). pelopor di daerah ini, memiliki lebih baru-baru ini (1983) menerbitkan sebuah artikel dalam Journal of Consumer Research menunjuk pada signifikansi kelas sosial terus untuk pemasaran dan pengaturan sebagainya beberapa panduan metodologis untuk penelitian di bidang ini. Juga, Dominquez dan Page (1981a, 1981b) telah menyarankan bagaimana perilaku konsumen penelitian di bidang ini yang terbaik mungkin lanjutkan, seperti yang Shimp dan Yokum (1981). Menarik ini dan kontribusi lain bersama-sama, kritik peringatan berikut. dan rekomendasi tampaknya muncul:

1. 1. kelas sosial adalah membangun dengan "yang berarti surplus." Tidak ada konsensus mengenai, kekompakan keterpisahan nomor,, dan kekhasan strata sosial. Namun, peneliti pemasaran memiliki sedikit tercermin pada isu-isu reliabilitas dan validitas yang melingkupi kelas sosial membangun. Ketersediaan berbagai skala stratifikasi dan meluasnya penggunaan tertentu ini kadang-kadang-pendek pertimbangan penuh dari apa yang tepatnya sedang diukur.

2. 2. Banyak karya empiris yang telah dilakukan telah ditandai oleh konseptualisasi naif (lih. Dominquez dan Page 1981a dalam hal ini). Paling-paling sederhana, penelitian telah membuka dengan cara berikut: indeks kelas standar sosial digunakan untuk menentukan keanggotaan kelas sosial keluarga, dan kemudian link langsung dicari antara variabel dan beberapa variabel konsumsi lainnya tertentu seperti produk, menyimpan, atau merek pilihan perilaku. Pendekatan ini tunduk pada kritik pada beberapa titik. Sebagai contoh: (a) variabel antara adalah sering diabaikan (misalnya, siklus-hidup tahap), (b) teknik statistik yang tidak tepat digunakan untuk mengukur pengaruh stratifikasi (sering teknik bivariat dengan mengabaikan variabel intervening tersebut), (c) pilihan tindakan tergantung sering tidak cocok untuk pengujian pengaruh kelas sosial.

3. 3. Reliance oleh para sarjana pemasaran pada kerangka dasarnya Warnerian - pandangan kelas sosial sebagai kelompok keanggotaan diskrit bahwa bukti yang tinggi homogenitas budaya - telah menghasilkan penelitian yang terutama berusaha untuk menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam perilaku konsumsi di kelas. Pendekatan seperti itu, sementara tentu sah dan diperlukan, telah untuk bagian paling kiri diperiksa keragaman dan dinamika perilaku intra-kelas.cacat Hal ini terutama serius diberikan kenaikan pendapatan keluarga dua, rumah tangga yang dikepalai perempuan, dan jenis lainnya hidup pengaturan yang berangkat dari cetakan pernikahan-pasangan tradisional. Memang, banyak instrumen yang digunakan untuk mengukur kelas sosial mengasumsikan sebuah keluarga di mana kepala laki-laki adalah pencari nafkah-tunggal dan kemungkinan besar di puncak kapasitas produktif nya. Pendekatan ini tampaknya tidak cocok terutama untuk menangani isu seputar (a) mobilitas sosial dan pencapaian status, (b) perubahan siklus-hidup dan dampaknya terhadap status sosial, dan (c) kristalisasi inkonsistensi status dan status.

KELAS DAN DIMENSI STATUS

Tulisan ini tidak membuat klaim untuk menyelesaikan masalah ini berlangsung lama. Sebaliknya ia berpendapat bahwa pandangan yang khas struktur kelas sosial - satu awalnya diusulkan oleh Max Weber dan kemudian dikembangkan dan diteliti secara panjang lebar oleh sosiolog - dapat sangat membantu dalam memahami aspek-aspek tertentu dari perilaku konsumen. Selain itu, pandangan yang mulai menangani masalah daerah tersebut.

konseptualisasi Weber kelas sosial tepat dibatasi, namun menghindari kaku itu berupaya Warnerian agak ketinggalan jaman. Selain itu, pendekatan ini menawarkan penjelasan menarik tentang mengapa satu mengharapkan untuk menemukan hubungan yang erat antara posisi kelas sosial dan kegiatan yang terkait dengan konsumsi.

Weber (1946) mengakui bahwa stratifikasi sosial [Makalah ini akan menggunakan kelas sosial istilah '"dan" stratifikasi sosial "secara bergantian, meskipun sesungguhnya masyarakat mungkin bertingkat tanpa kelas sosial yang berbeda. Konsep kelas dan status, bagaimanapun, adalah dibedakan satu sama lain ini mencerminkan menggunakan Weber istilah, tetapi sering bertentangan dengan penggunaan biasa, yang menggunakan terminologi seperti tingkat kelas dan status sosial secara bergantian.. Hubungan antara konsep kelas dan status dan fenomena yang lebih luas dari stratifikasi akan dikembangkan lebih lanjut dalam tulisan ini.] adalah fenomena multidimensional Ia menegaskan. masyarakat yang dipesan sepanjang beberapa hirarki, dengan kelas dan status menjadi dimensi utama stratifikasi Kelas,. untuk Weber, sebagian besar suatu kategori ekonomi. Ia telah banyak dikaitkan dengan pekerjaan , kekayaan, atau, lebih luas, kesempatan hidup Status, di sisi lain, ada hubungannya dengan perbedaan sosial dan dengan demikian telah sering dikaitkan dengan gaya hidup..

Konsumen peneliti tidak biasanya ditemukan perbedaan antara kelas dan status satu berguna untuk membuat. Wilkie (1986) offers a possible explanation for this: Wilkie (1986) menawarkan penjelasan yang mungkin untuk ini:

Pemasar dan profesional perilaku konsumen cenderung berkonsentrasi hampir seluruhnya pada dimensi gaya hidup, karena hal ini mencerminkan paling langsung pola pembelian dan kebiasaan konsumsi kelas-kelas sosial yang berbeda ....[O] ada ladang [telah memberikan perhatian] dengan dimensi hidup-kemungkinan stratifikasi sosial (hal. 659).

Untuk tekan titik ini sedikit lebih jauh, orang mungkin menunjukkan bahwa hubungan antara kelas sosial dan gaya hidup telah dibuat terlalu dekat. Misalnya, pernyataan bahwa gaya hidup adalah "inti dari kelas sosial" (Myers dan Guttman 1974) adalah berlebihan dan dapat mendorong mengabaikan aspek lain kelas sosial.

mempertahankan bahwa perbedaan antara kelas dan status sangat relevan bagi para peneliti konsumen bekerja dengan isu-isu stratifikasi sosial. Memang, mereka mengusulkan bahwa pada awal penelitian salah satu harus menentukan apakah perilaku konsumsi-terkait lebih cenderung akan ke kelas atau status. Selanjutnya, mereka menawarkan pedoman berikut untuk membuat seperti tekad

Kelas pusat pada individu dan / nya pekerjaan, sementara status berkisar sekitar keluarga dan posisinya dalam masyarakat berdasarkan rumah, lokasi jenis dan nilai, interaksi, dan keanggotaan serta pendidikan, keluarga, latar belakang, dan pekerjaan itu kelas paling cocok untuk keputusan-keputusan konsumen yang didominasi individual, bukan bersama-sama, dibuat atau didelegasikan ke Kelas keluarga juga paling cocok untuk nilai-nilai, gaya hidup, dan pola komunikasi yang berpusat pada kerja, santai (karena dampak peran kerja pada ketersediaan, penggunaan dan pembelanjaan untuk waktu senggang), investasi, tabungan, dan sikap dan persepsi terhadap pandangan keuangan (1981b p 156)

Dominquez dan peneliti tantangan konsumen Halaman untuk berpikir lebih tepat tentang apa kelas sosial dan mengapa satu mengharapkan hal-berhubungan dengan perilaku konsumen Selain itu, mereka menegaskan bahwa kelas serta aspek status struktur kelas sosial yang relevan dengan konsumsi Namun, dalam framing kelas / pertanyaan status dalam hal agak dingin sebagai baik / atau materi, mereka telah meremehkan sifat saling bergantung dari dimensi stratifikasi

Hubungan antara kelas dan status sangat relevan ketika mempertimbangkan perilaku manusia dalam peran konsumsi Memang, menurut Weber dimensi kelas dan status tersambung melalui mekanisme pasar

Dengan beberapa penyederhanaan-over, satu sehingga bisa dikatakan bahwa kelas-kelas "yang bertingkat sesuai dengan hubungan mereka produksi dan perolehan barang, sedangkan status kelompok 'yang bertingkat sesuai dengan prinsip-prinsip konsumsi barang yang diwakili oleh khusus" gaya hidup "(Weber 1946, p 193)

Hubungan antara kelas dan status adalah kompleks Weber melampaui posisi Marxis bahwa kelas adalah penentu utama status Penutupan sosial yang dilakukan oleh kelompok-kelompok berbagai status pada gilirannya dapat memiliki pengaruh besar di kelas dan realitas ekonomi petugas demikian gaya hidup tidak hanya mengalir dari kedudukan sosial melainkan memainkan peran sentral dalam pemeliharaan, pembentukan dan modifikasi kesenjangan sosial terstruktur

Gaya hidup dan pola konsumsi yang mendukung mereka dapat mengambil karakter dan fungsi mekanisme pengecualian (Boskoff 1972) dan dengan demikian berfungsi untuk mencegah mobilitas dan untuk melembagakan hak-hak istimewa Meskipun tentu jelas bahwa tidak adanya sumber daya ekonomi yang memadai secara efektif dapat mencegah satu dari berlatih gaya hidup tertentu, mungkin kurang jelas bahwa berbagai nilai, keterampilan, dan standar estetika diwujudkan dalam gaya hidup tertentu juga mungkin menolak akuisisi mudah atau imitasi dan oleh karena itu mereka hanya dapat secara efektif membatasi kesempatan seseorang ekonomi dan sosial Bahkan untuk kelompok status tidak di penutupan, sosial terbesar dicapai dengan gaya hidup dapat melindungi dan melindungi kelompok-kelompok seperti dari pengaruh luar dan dengan demikian mereka mampu ukuran otonomi

Proposisi

Pembahasan sebelumnya telah berpendapat bahwa hubungan antara kelas sosial dan konsumsi adalah satu fundamental Kami telah menyatakan bahwa gaya konsumsi tidak hanya sebuah ekspresi dari sebuah orientasi kelas sosial tertentu, tetapi juga suatu mekanisme yang menonjol dalam yang sebenarnya membentuk sosial struktur

Unsur-unsur penting dari perspektif ini dirangkum dan diperluas dalam bentuk beberapa proposisi dasar.

Proposisi 1: kelas sosial adalah membangun berguna untuk menjelaskan perilaku konsumsi karena menawarkan wawasan ke kedua berbagai sumber daya yang membatasi pilihan konsumen dan preferensi yang mengarahkan alokasi sumber daya.

Mungkin signifikansi dari proposisi ini bisa digambarkan dengan cara perbandingan. Teori ekonomi perilaku konsumen dimulai dengan batasan anggaran konsumen dan preferensi nya untuk beberapa berbagai macam barang dan kemudian menetapkan tentang menentukan bagaimana konsumen akan mengalokasikan sumber daya yang langka nya keuangan sehingga memaksimalkan utilitas.Aparat teoritis pasti akan mengarah ke titik keseimbangan, tetapi hanya jika selera konsumen dapat dianggap sebagai diberikan. Sosial langkah analisis kelas menjadi vakum ini, memberikan bukti bahwa perbedaan penting dalam gaya hidup dan pola konsumsi berasal dari perbedaan yang sesuai pada kedudukan sosial. Tapi bukan hanya apakah ini menawarkan perspektif wawasan ke preferensi konsumen dan selera, tetapi juga memperdalam pemahaman kita tentang kendala tertentu di mana konsumen bertindak di pasar. Ada dimensi sumber daya setidaknya empat yang mencakup dalam struktur kelas sosial:

Keuangan.Konsentrasi kekayaan di bagian paling atas dari spektrum sosial di Amerika Serikat sangat besar. Gilbert dan Kahl (1982) memperkirakan bahwa kelas kapitalis disebut, yang menyumbang 1 persen dari penduduk AS, menguasai sekitar setengah kekayaan negara.Mengingat struktur seluruh kelas, kita menemukan bahwa hubungan kelas pendapatan dapat diperkirakan sekitar 0,4 (Coleman 1983). Angka ini, sementara cukup signifikan, menggarisbawahi fakta bahwa kelas pendapatan dan kelas sosial tidak konsep dipertukarkan.

Sosial.Orang-orang cenderung berasosiasi dengan kelas sosial sama dalam persahabatan mereka, pernikahan, keanggotaan organisasi, dan pilihan perumahan (Warner 1949; Hollingshead 1950; Laumann 1966; Simkus 1978; Gilbert dan Kahl 1982). Selain itu, karena kenaikan peringkat kelas sosial demikian juga tingkat partisipasi sosial (Kahl 1957; Hodges 1964; Curtis dan Jackson 1977). peringkat kelas sosial demikian tinggi menunjukkan jaringan sosial yang lebih luas daripada yang lebih rendah, yang dicirikan oleh ikatan keluarga yang berorientasi lebih lanjut dibatasi dalam pengertian geografis (Coleman 1983).keterampilan sosial dan posisi pekerjaan tampaknya terkait erat; masuk dan banyak kemajuan ke tengah dan pekerjaan kelas menengah-atas secara signifikan tergantung pada kemampuan seseorang untuk menunjukkan sikap sosial tertentu dan sifat-sifat (Lynd dan Lynd 1929; 1952 Whyte, Kanter 1977).Demikian pula posisi pekerjaan orang tua sangat warna sosialisasi anak-anak mereka, sehingga menanamkan nilai-nilai sosial yang baik dapat memfasilitasi atau menghambat prestasi kerja (Kohn 1969).

Keakraban dengan masalah budaya dan kepemilikan mandat budaya tampaknya sangat terkait dengan berdiri kelas yang lebih tinggi sosial (Bourdieu 1973).Modal budaya kadang-kadang diperoleh - biasanya melalui akuisisi kredensial akademis yang sesuai atau melalui partisipasi dalam urusan budaya - dalam upaya untuk meningkatkan atau meningkatkan status sosial seseorang (DiMaggio 1982).

Persepsi waktu tampaknya sangat dikondisikan oleh anggota kelas sosial.Tiga temuan khususnya muncul: (1) kekasih anggota kelas mengungkapkan orientasi lebih terbatas untuk peristiwa di masa depan daripada dari kelas menengah (Davis dan Dollard 1940, 1952 Leshan, Bernstein 1960, 1968; Horton 1967; Liebow 1967), (2) kelas bawah anggota dengan aspirasi mobile menanjak dan yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan sosialisasi antisipatif ke nilai-nilai kelas menengah dan standar kurang cenderung memiliki horizon waktu terbatas daripada rekan-rekan kelas sosial mereka tanpa aspirasi tersebut (Ellis dan Lane 1966), (3) tanpa tingkat kelas sosial, orang-orang dengan perspektif waktu terbatas adalah pada kerugian kompetitif dalam memenuhi tuntutan peran dilembagakan dunia kelas menengah (Davis dan Dollard 1940; Teahan 1958; Bernstein 1960, 1968; Cohen, Fraenkel, dan Brewer 1968; Williams 1970). Nilai dan ketersediaan waktu juga bervariasi di seluruh kelas sosial. Karena waktu mereka lebih berharga dalam hal ekonomi, individu dengan berdiri kelas yang lebih tinggi sosial sering menemukan diri mereka sendiri dengan waktu luang sedikit (Linder 1970). Pada saat yang sama, berdiri di kelas yang lebih tinggi berarti kebebasan yang lebih besar dan fleksibilitas dalam mengelola keterbatasan waktu (Douglas dan Isherwood 1978).

Tanpa sama sekali menolak sentralitas pendapatan dan kekayaan sebagai penentu pilihan konsumen, teoretisi kelas yang paling sosial akan mempertahankan bahwa sumber daya ekonomi biasanya dimediasi dan ditambah dengan dimensi sumber daya lainnya. Selain membuat perbedaan di antara berbagai jenis sumber-keuangan, sosial, budaya dan waktu-satu terkait-juga harus membuat perbedaan antara sumber daya yang satu membawa ke pasar dan cara tertentu di mana sumber daya dikerahkan. Perbedaan kedua antara kemungkinan konsumsi dan pola konsumsi yang sebenarnya mencerminkan Weber membuat perbedaan antara dimensi kelas dan status.

Proposisi 2: Struktur Class adalah laten, status, nyata. Class position contributes significantly to status configurations. Kelas posisi memberikan kontribusi signifikan terhadap konfigurasi status.Status diferensiasi pada gilirannya terkait dengan variasi dalam kegiatan konsumsi melalui mekanisme gaya hidup.

potensi konsumsi yang disarankan pada indikator kelas yang diwujudkan dalam kelompok status; hidup-kemungkinan berubah menjadi gaya hidup. proposisi ini dapat dikembangkan lebih lanjut oleh lain dibandingkan dengan teori ekonomi, dalam hal ini, dengan teori "baru" ekonomi perilaku konsumen (Becker 1965; Gronau 1977). Perspektif ini dilihat konsumsi sebagai proses yang tidak berbeda dengan proses produksi. Sama seperti modal perusahaan input dan tenaga kerja untuk menghasilkan barang, demikian juga rumah tangga menggabungkan barang dan waktu untuk menghasilkan komoditi yang dalam gilirannya menghasilkan utilitas. Dan sama seperti yang mungkin untuk berbicara tentang teknologi yang berhubungan dengan produksi barang, sehingga juga bisa salah mempertimbangkan teknologi konsumsi rumah tangga.(Beberapa rumah tangga mungkin menunjukkan tingkat efisiensi yang lebih dari yang lain, beberapa mungkin memiliki barang teknologi intensif dan waktu orang lain atau yang bersantai intensif.) Dan, akhirnya, seperti halnya modal dan tenaga kerja menarik nilai dari potensi produktifnya, demikian pula makna sosial sumber daya konsumen (indikator kelas) akhirnya menyadari ketika mereka kuno ke dalam gaya hidup tertentu (indikator status).

Gaya hidup, seperti yang digunakan dalam konteks ini, diidentifikasi sebagai mekanisme menyeimbangkan dimana potensi untuk perilaku dijabarkan ke dalam perilaku yang sebenarnya dianggap tepat untuk posisi sosial tertentu.Di satu sisi, gaya hidup tertentu tidak dapat terwujud (atau yang diwujudkan dengan strain yang besar dan kesulitan) jika tidak ada sumber daya yang diperlukan. Di sisi lain, ada begitu-e ketidakpastian seputar cara tepat di mana posisi kelas diterjemahkan ke dalam struktur status. Boskoff, yang telah memberikan pertimbangan khusus terhadap peran gaya hidup di sosial-stratifikasi, pandangan gaya hidup sebagai "penumpukan trial-and-error adaptasi bersama untuk satu set kesempatan sosial dan pembatasan" (1972, hal 159-160). Position, therefore, Kedudukan, oleh karena itu,

tidak selalu "menyebabkan" gaya hidup, melainkan memberikan isyarat dalam situasi berulang tertentu yang cenderung untuk memperoleh suatu yang tidak direncanakan tetapi - "Logico-berarti" serangkaian sikap, nilai, dan tindakan. Nilai fungsional atau adjustive kepada pelaku gaya hidup dapat disimpulkan sebagian dari kekuatan nilai-nilai tersebut dan kesatuan i relatif mereka dari upaya eksternal pada perubahan (1969, hal 263).

Isu lain, disarankan oleh kutipan di atas, menyangkut konsistensi dan stabilitas gaya hidup. Jika gaya hidup dipahami sebagai mekanisme adaptif, kemudian sebagai perubahan kondisi atau persepsi kondisi berubah begitu juga akan gaya hidup. Mencerminkan gaya hidup seri yang berkelanjutan dari penilaian tentang sumber daya dan manfaat, keterbatasan dan kesempatan yang dihadapi individu dan keluarga. Struktur kelas sosial itu sendiri menunjukkan adanya satu set gaya hidup yang berfungsi sebagai "titik penilaian tetap" (Boskoff 1972) atau "tipe ideal" (Kahl 1957). This is no less true in a society characterized by social mobility. Hal ini tidak kurang benar dalam masyarakat yang ditandai dengan mobilitas sosial.Argumen sebenarnya bisa maju bahwa prestasi status difasilitasi oleh kehadiran sistem nilai, mereka menganggap makna pilihan seseorang tentang tujuan dan sarana untuk tujuan tersebut.

Proposisi 3: Barang dapat dikatakan untuk mengambil sifat-sifat simbol status jika pembelian dan penggunaan mereka merupakan indikasi keanggotaan dalam kelompok status tertentu. Selanjutnya, simbol status yang berkhasiat hanya sejauh ada mekanisme ketat terkait dengan penggunaan mereka yang berfungsi untuk membatasi "penipuan" mereka gunakan.

analisis Goffman's (1951) simbol Status mengungkapkan beberapa mekanisme yang berbeda yang dapat membatasi penggunaan yang tidak tepat objek tersebut. Oleh karena itu, ketika mempertimbangkan barang konsumsi yang dapat berfungsi sebagai simbol status, kita harus mengakui bahwa pembatasan membatasi penggunaan mereka mungkin timbul dari beberapa sumber yang berbeda. Keterbatasan sumber daya keuangan tentu saja dapat membatasi penggunaan barang banyak, tetapi ada dimensi sumber daya lain yang sama efektif membatasi kesempatan konsumsi. Pembatasan atau pembatasan yang berkaitan dengan waktu, keterampilan sosial, kemampuan, dan sejarah keluarga juga dapat membayangkan menonjol di beberapa daerah konsumsi

Iklan yang membuat menarik bagi status mengasumsikan berbagai sikap berkaitan dengan mekanisme ini membatasi. Sebagai contoh, slogan berikut menjelaskan tuntutan keuangan tersirat dengan pemegang saham: "Selama ada orang-orang yang mampu kesempurnaan, BMW akan terus membangun itu." Dimungkinkan untuk bersantai satu mekanisme pembatasan, sambil memperkenalkan lain - ". Orang pintar yang tidak kaya" pendekatan yang diambil oleh sebuah klub buku saku yang menawarkan barang untuk Namun kemungkinan lain yang disediakan oleh daya tarik yang tak tahu malu dalam pengelakan atas mekanisme membatasi. Ini ditemukan dalam iklan untuk tirai Levolor yang menawarkan panduan "bagaimana untuk menghias kaya, kaya, kaya ketika Anda tidak, tidak, tidak."

Status simbol dasarnya mewujudkan bersama kelas Weber dan dimensi status. Seorang individu dapat menggunakan barang-barang konsumsi sebagai simbol status dan dengan demikian upaya untuk mengklaim berdiri sosial tertentu atau untuk atribut signifikansi sosial untuk perilakunya.Tapi klaim tetap berbeda dari dasar untuk menyatakan bahwa, sama seperti status aspirasi tetap berbeda dari realitas kelas

Saat kelas dan status dimensi tidak konsisten baik pada tingkat individu atau masyarakat, maka hasil ketidakstabilan dan ketidakamanan, mendorong suatu peningkatan penggunaan simbol status (Gerth dan Mills 1953) Belk (1986) baru-baru ini berspekulasi bahwa konsumsi mencolok mungkin yuppies batang sebagian dari relatif lambat kemajuan pekerjaan mereka dan keuntungan yang tidak memadai dalam pendapatan riil konsumsi mereka adalah kompensasi dalam arti bahwa konsumsi kepuasan (perhatian status) sedang digantikan untuk kepuasan kerja (pertimbangan kelas)

tepat konsumsi kompensasi juga mencerminkan pengaruh kelas dan status Sederhananya, beberapa bidang konsumsi lebih ketat daripada yang lain, dan beberapa konsumen mungkin berusaha untuk menekankan daerah-daerah konsumsi yang relatif berbicara, kurang membatasi Tentu saja, istilah "membatasi digunakan dalam arti relatif; penentuan sebagai daerah yang dibatasi atau tidak tergantung pada penilaian kontrol one'-s melalui berbagai sumber daya (misalnya, uang, waktu, dll) vis-a-vis jenis dan tingkat sumber daya yang diperlukan untuk mengamankan tujuan konsumsi tertentu

Sebagai contoh, sebuah keluarga dengan sumber daya keuangan yang terbatas mungkin akan mengenali bahwa kemewahan harga tinggi tertentu berada di luar kemampuannya, namun, bahwa keluarga yang sama mungkin menemukan bahwa ia memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk terlibat dalam berbagai bentuk konsumsi sosial atau budaya yang memberikan informasi penting, sumber alternatif skenario kepuasan dan status yang sama Banyak Sisa mungkin dan sering usaha bisa diganti dengan uang Dan uang bisa dihabiskan dengan cara yang dimaksudkan untuk mengimbangi terbatasnya akses terhadap lingkungan sosial sangat terbatas.

Ketika, dengan kebutuhan atau pilihan, konsumsi difokuskan pada satu area dan bukan orang lain, tampaknya ada kecenderungan untuk meningkatkan pentingnya mantan, sedangkan merendahkan bahwa dari Tumin terakhir (1967) memperluas kecenderungan ini

Jika (] rating sosial individu tergantung pada manifestasi tentang sejumlah kriteria, dan jika dia memenuhi lebih dari beberapa kriteria dan kurang orang lain, ia akan cenderung untuk menekankan pentingnya orang-orang yang memenuhi sambil meminimalkan pentingnya orang-orang yang tidak terpenuhi Jika rumahnya yang sederhana namun anak-anaknya menghadiri sekolah swasta yang baik, ia akan meminta perhatian pada kenyataan ini dan pada saat yang sama ia akan menekankan pentingnya menjaga hanya sebuah rumah sederhana (hal. 101).

Perilaku tersebut mirip tujuannya dengan upaya disonansi pengurangan tertentu dan telah mengkompensasi kekurangan pilihan sendiri dengan meminimalkan daya tarik orang-orang pilihan yang baik terdahulu atau ditolak demikian, dalam hal konsumsi, konsumen mungkin akan membantu untuk membuat keluar kebajikan kebutuhan

Proposisi 4 Sama seperti gaya konsumsi dapat digunakan sebagai teknik pengecualian, berfungsi untuk mempertahankan hak istimewa dan status mereka yang menjadi milik, demikian juga bisa konsumsi "kemahiran" atau keahlian menyediakan cara untuk menembus hambatan kelas dan status Dengan kata lain, konsumsi dapat didaftar sebagai strategi untuk memajukan berdiri kelas sosial.

Membatasi mekanisme tidak hambatan ditembus Bagi mereka yang memiliki aspirasi sosial dan menginginkan mobilitas ke atas, gaya hidup yang sesuai dan gaya konsumsi yang sesuai harus diidentifikasi dan dipelajari Satu dapat berhipotesis bahwa mobilitas kelas sosial asli terdiri dari gerakan ini saling melengkapi baik melalui dimensi kelas dan status keberhasilan objektif diukur dengan kemajuan karir, kredensial pendidikan, atau kekayaan pribadi harus menemukan ekspresi khas dalam gaya yang tepat "lebih tinggi" dari kehidupan. gaya Konsumsi bercita-cita untuk standar baru ini, tetapi ingin menemukan, risiko jenis cemoohan yang secara tradisional telah menumpuk di ekses dari kaya baru. Namun, karena penerimaan divalidasi ke dalam strata yang lebih tinggi terutama tergantung pada keberhasilan manipulasi tanda dan simbol gaya hidup yang sesuai, penerimaan sosial terkadang hujan turun tanpa pendakian yang obyektif nyata.

Scitovsky (1976) membuat saat ini dalam konteks sejarah: "Sampai akhir abad kedelapan belas, pendidikan adalah hak istimewa dari kelas waktu luang dan terdiri, cukup tepat, pelatihan dalam keterampilan konsumsi" (hal. 229). Di zaman kita sekarang, seseorang dapat berspekulasi apakah proliferasi tampak dari panduan konsumsi, serta munculnya terus pembuat rasa berpengaruh-(misalnya, pakar fashion, arsitek, desainer interior) yang mengembangkan dan mempertahankan status mesin, tidak mencerminkan Status lazim kecemasan yang berasal sebagian dari individu lintas ditekan oleh inkonsistensi kelas dan status.

PENGERTIAN KEBUDAYAAN DAN PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP PEMBELIAN DAN KONSUMSI

1. PENGERTIAN KEBUDAYAAN
Kebudayaan dalam bahasa Inggris disebut culture. Kata tersebut sebenarnya berasal dari bahasa Latin = colere yang berarti pemeliharaan, pengolahan tanah menjadi tanah pertanian. Dalam arti kiasan kata itu diberi arti “pembentukan dan pemurnian jiwa”. Sedangkan kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu kata buddayah. Kata buddayah berasal dari kata budhi atau akal. Manusia memiliki unsur-unsur potensi budaya yaitu pikiran (cipta), rasa dan kehendak (karsa). Hasil ketiga potensi budaya itulah yang disebut kebudayaan. Dengan kata lain kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dengan cipta manusia mengembangkan kemampuan alam pikir yang menimbulkan ilmu pengetahuan. Dengan rasa manusia menggunakan panca inderanya yang menimbulkan karya-karya seni atau kesenian. Dengan karsa manusia menghendaki kesempurnaan hidup, kemuliaan dan kebahagiaan sehingga berkembanglah kehidupan beragama dan kesusilaan.
Menurut Ki Hajar Dewantara: “Kebudayaan adalah buah budi manusia dalam hidup bermasyarakat” sedangkan menurut Koentjaraningrat, guru besar Antropologi di Universitas Indonesia: “Kebudayaan adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar”.
Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. kebudayaan itu hanya dimiliki oleh masyarakat manusia;
2. kebudayaan itu tidak diturunkan secara biologis melainkan diperoleh melalui proses belajar; dan
3. kebudayaan itu didapat, didukung dan diteruskan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
3
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
1.1 Kebudayaan dalam pandangan sosiologi:
Para sosiolog mendefinisikan kebudayaan Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari interaksi sosial antar manusia dalam masyaralat mendefinisikan kebudayaan sebagai berikut:
1. Keseluruhan (total) atau pengorganisasian way of life termasuk nilai-nilai, norma-norma, institusi, dan artifak yang dialihkan dari satu generasi kepada generasi berikutnya melalui proses belajar (Dictionary of Modern Sociology).
2. Francis Merill mengatakan bahwa kebudayaan adalah :
 Pola-pola perilaku yang dihasilkan oleh interaksi social
 Semua perilaku dan semua produk yang dihasilkan oleh seseorang sebagai anggota suatu masyarakat yang di temukan melalui interaksi simbolis.

3. Bounded et.al (1989), kebudayaan. adalah sesuatu yang terbentuk oleh Pengembangan dah transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya symbol bahasa sebagai rangkaian simbol. yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya di antara para anggota suatu masyarakat. Pesan-pesan tentang kebudayaan yang diharapkan dapat ditemukan di dalam media, pernerintahan, institusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.
4. Mitchell (ed) dalam Dictionary of Soriblogy mengemukakan, kebudayaan adalah sebagian dari perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia (dan produk yang dihasilkan manusia) yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar dialihkan secara genetikal.

1.2 Kebudayaan Dalam Pandangan Antropologi
Berdasarkan. Encyclopedia of Sociology, kebudayaan menurut para antropolog diperkenalkan Pada abad 19. Gagasan ini Pertama. kali muncul di zaman renaisans untuk menggarnbarkan adat istiadat, kepercayaan, bentuk-bentuk sosial, dan bahasa-bahasa Eropa. di masa. silam yang berbeda dengan masa kini. Periode kedua dari kebudayaan terjadi tatkala konsep ini mulai mendapat pengakuan bahwa kini manusia itu berbeda-beda berdasarkan wilayah diatas muka bumi, variasi itu diperkuat oleh bahasa yang mereka gunakan, ritual yang mereka praktekan serta berdasarkan jenis-jenis masyarakat di mana mereka tinggal.
1. Malinowski mengatakan bahwa kebudayaan merupakan kesatuan dari dua aspek fundamental, kesatuan pengorganisasian yaitu tubuh artifak dan sistem adat istiadat.
2. Kebudayaan adalah perilaku yang dipelajari, seorang tidak dapat dilahirkan dengan tanpa kebudayaan, kebudayaan itu bersifat universal, setiap manusia memiliki kebudayaan yang dia peroleh melalui usaha sekurang-kurangnya melalui belajar secara biologis.

Kebudayaan merupakan “jumlah” dari seluruh sikap, adat istiadat, dan kepercayaan yang membedakan sekelompok orang dengan kelompok lain, kebudayaan ditransmisikan melalui bahasa, objek material, ritual, institusi (milsanya sekolah), dan kesenian, dari suatu generasi kepada generasi berikutnya. (Dictionary of Cultural Literacy).

5
2. TEMPAT SESEORANG MENEMUKAN NILAI-NILAI YANG DIANUTNYA
Individu tidak lahir dengan membawa nilai-nilai (values). Nilai-nilai ini diperoleh dan berkembang melalui informasi, lingkungan keluarga, serta budaya sepanjang perjalanan hidupnya. Mereka belajar dari keseharian dan menentukan tentang nilai-nilai mana yang benar dan mana yang salah. Untuk memahami perbedaan nilai-nilai kehidupan ini sangat tergantung pada situasi dan kondisi dimana mereka tumbuh dan berkembang. Nilai-nilai tersebut diambil dengan berbagai cara antara lain:
(1) Model atau contoh, dimana individu belajar tentang nilai-nilai yang baik atau buruk melalui observasi perilaku keluarga, sahabat, teman sejawat dan masyarakat lingkungannya dimana dia bergaul;
(2) Moralitas, diperoleh dari keluarga, ajaran agama, sekolah, dan institusi tempatnya bekerja dan memberikan ruang dan waktu atau kesempatan kepada individu untuk mempertimbangkan nilai-nilai yang berbeda.
(3) Sesuka hati adalah proses dimana adaptasi nilai-nilai ini kurang terarah dan sangat tergantung kepada nilai-nilai yang ada di dalam diri seseorang dan memilih serta mengembangkan sistem nilai-nilai tersebut menurut kemauan mereka sendiri. Hal ini lebih sering disebabkan karena kurangnya pendekatan, atau tidak adanya bimbingan atau pembinaan sehingga dapat menimbulkan kebingungan, dan konflik internal bagi individu tersebut.
(4) Penghargaan dan Sanksi : Perlakuan yang biasa diterima seperti: mendapatkan penghargaan bila menunjukkan perilaku yang baik, dan sebaliknya akan mendapat sanksi atau hukuman bila menunjukkan perilaku yang tidak baik.
(5) Tanggung jawab untuk memilih : adanya dorongan internal untuk menggali nilai-nilai tertentu dan mempertimbangkan konsekuensinya untuk diadaptasi. Disamping itu, adanya dukungan dan bimbingan dari seseorang yang akan menyempurnakan perkembangan sistem nilai dirinya sendiri.

3. PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP PERILAKU KONSUMEN
Pengertian perilaku konsumen menurut Shiffman dan Kanuk (2000) adalah perilaku yang diperhatikan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan mengabaikan produk, jasa, atau ide yang diharapkan dapat memuaskan konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya dengan mengkonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan.
Selain itu perilaku konsumen menurut Loudon dan Della Bitta (1993) adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik individu-individu yang semuanya ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan barang-barang dan jasa-jasa.
6
Menurut Ebert dan Griffin (1995) consumer behavior dijelaskan sebagai upaya konsumen untuk membuat keputusan tentang suatu produk yang dibeli dan dikonsumsi.
3.1. Model perilaku konsumen
Konsumen mengambil banyak macam keputusan membeli setiap hari. Kebanyakan perusahaan besar meneliti keputusan membeli konsumen secara amat rinci untuk menjawab pertanyaan mengenai apa yang dibeli konsumen, dimana mereka membeli, bagaimana dan berapa banyak mereka membeli, serta mengapa mereka membeli.
Pertanyaan sentral bagi pemasar: Bagaimana konsumen memberikan respon terhadap berbagai usaha pemasaran yang dilancarkan perusahaan? Perusahaan benar−benar memahami bagaimana konsumen akan memberi responterhadap sifat-sifat produk, harga dan daya tarik iklan yang berbeda mempunyai keunggulan besar atas pesaing.
3.2. Faktor Budaya
Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada perilaku konsumen. Pengiklan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh budaya, subbudaya dan kelas social pembeli. Budaya adalah penyebab paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang.
Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya. Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – sub-budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis: kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, area geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar seringkali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Kelas-kelas sosial adalah masyarakat yang relatif permanen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur dari kombinasi pendapatan, pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan variable lain.

7
3.2.1. Pengaruh Budaya Yang Tidak Disadari
Dengan adanya kebudayaan, perilaku konsumen mengalami perubahan . Dengan memahami beberapa bentuk budaya dari masyarakat, dapat membantu pemasar dalam memprediksi penerimaan konsumen terhadap suatu produk. Pengaruh budaya dapat mempengaruhi masyarakat secara tidak sadar. Pengaruh budaya sangat alami dan otomatis sehingga pengaruhnya terhadap perilaku sering diterima begitu saja. Ketika kita ditanya kenapa kita melakukan sesuatu, kita akan otomatis menjawab, “ya karena memang sudah seharusnya seperti itu”. Jawaban itu sudah berupa jawaban otomatis yang memperlihatkan pengaruh budaya dalam perilaku kita. Barulah ketika seseorang berhadapan dengan masyarakat yang memiliki budaya, nilai dan kepercayaan yang berbeda dengan mereka, lalu baru menyadari bahwa budaya telah membentuk perilaku seseorang. Kemudian akan muncul apresiasi terhadap budaya yang dimiliki bila seseorang dihadapan dengan budaya yang berbeda. Misalnya, di budaya yang membiasakan masyarakatnya menggosok gigi dua kali sehari dengan pasta gigi akan merasa bahwa hal itu merupakan kebiasaan yang baik bila dibandingkan dengan budaya yang tidak mengajarkan masyarakatnya menggosok gigi dua kali sehari. Jadi, konsumen melihat diri mereka sendiri dan bereaksi terhadap lingkungan mereka berdasarkan latar belakang kebudayaan yang mereka miliki. Dan, setiap individu akan mempersepsi dunia dengan kacamata budaya mereka sendiri.
3.2.2. Pengaruh Budaya dapat Memuaskan Kebutuhan
Budaya yang ada di masyarakat dapat memuaskan kebutuhan masyarakat. Budaya dalam suatu produk yang memberikan petunjuk, dan pedoman dalam menyelesaikan masalah dengan menyediakan metode “Coba dan buktikan” dalam memuaskan kebutuhan fisiologis, personal dan sosial. Misalnya dengan adanya budaya yang memberikan peraturan dan standar mengenai kapan waktu kita makan, dan apa yang harus dimakan tiap waktu seseorang pada waktu makan. Begitu juga hal yang sama yang akan dilakukan konsumen misalnya sewaktu mengkonsumsi makanan olahan dan suatu obat.
3.2.3. Pengaruh Budaya dapat Dipelajari
Budaya dapat dipelajari sejak seseorang sewaktu masih kecil, yang memungkinkan seseorang mulai mendapat nilai-nilai kepercayaan dan kebiasaan dari lingkungan yang kemudian membentuk budaya seseorang. Berbagai macam cara budaya dapat dipelajari. Seperti yang diketahui secara umum yaitu misalnya ketika orang dewasa dan rekannya yang lebih tua mengajari anggota keluarganya yang lebih muda mengenai cara berperilaku. Ada juga misalnya seorang anak belajar dengan meniru perilaku keluarganya, teman atau pahlawan di televisi. Begitu juga dalam dunia industri, perusahaan periklanan cenderung memilih cara pembelajaran secara informal dengan memberikan model untuk ditiru
masyarakat.Misalnya dengan adanya pengulangan iklan akan dapat membuat nilai suatu produk dan pembentukan kepercayaan dalam diri masyarakat. Seperti biasanya iklan sebuah produk akan berupaya mengulang kembali akan iklan suatu produk yang dapat menjadi keuntungan dan kelebihan dari produk itu sendiri. Iklan itu tidak hanya mampu mempengaruhi persepsi sesaat konsumen mengenai keuntungan dari suatu produk, namun dapat juga memepengaruhi persepsi generasi mendatang mengenai keuntungan yang akan didapat dari suatu kategori produk tertentu.
3.2.4. Pengaruh Budaya yang Berupa Tradisi
Tradisi adalah aktivitas yang bersifat simbolis yang merupakan serangkaian langkah-langkah (berbagai perilaku) yang muncul dalam rangkaian yang pasti dan terjadi berulang-ulang. Tradisi yang disampaikan selama kehidupan manusia, dari lahir hingga mati. Hal ini bisa jadi sangat bersifat umum. Hal yang penting dari tradisi ini untuk para pemasar adalah fakta bahwa tradisi cenderung masih berpengaruh terhadap masyarakat yang menganutnya. Misalnya yaitu natal, yang selalu berhubungan dengan pohon cemara. Dan untuk tradisi-tradisi misalnya pernikahan, akan membutuhkan perhiasan-perhiasan sebagai perlengkapan acara tersebut.
4. DAMPAK NILAI – NILAI INTI TERHADAP PEMASAR
4.1. Kebutuhan
Konsep dasar yang melandasi pemasaran adalah kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia adalah pernyataan dari rasa kahilangan, dan manusia mempunyai banyak kebutuhan yang kompleks. Kebutuhan manusia yang kompleks tersebut karena ukan hanya fisik (makanan, pakaian, perumahan dll), tetapi juga rasa aman, aktualisasi diri, sosialisasi, penghargaan, kepemilikan. Semua kebutuhan berasal dari masyarakat konsumen, bila tidak puas consumen akan mencari produk atau jasa yang dapat memuaskan kebutuhan tersebut.
4.2. Keinginan
Bentuk kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh budaza dan kepribadian individual dinamakan keinginan. Keinginan digambarkan dalam bentuk obyek yang akan memuaskan kebutuhan mereka atau keinginan adalah hasrat akan penawar kebutuhan yang spesifik. Masyarakat yang semakin berkembang, keinginannya juga semakin luas, tetapi ada keterbatasan dana, waktu, tenaga dan ruang, sehingga dibutuhkan perusahaan yang bisa memuaskan keinginan sekaligus memenuhi kebutuhan manusia dengan menenbus keterbatasan tersebut, paling tidak meminimalisasi keterbatasan sumber daya. Contoh : manusia butuh makan, tetapi keinginan untuk memuaskan lapar tersebut terhgantung dari budayanya dan lingkungan tumbuhnya. Orang
Yogya akan memenuhi kebutuhan makannya dengan gudeg, orang Jepang akan memuaskan keinginannya dengan makanan sukayaki dll.
4.3. Permintaan
Dengan keinginan dan kebutuhan serta keterbatasan sumber daya tersebut, akhirnya manusia menciptakan permintaan akan produk atau jasa dengan manfaat yang paling memuaskan. Sehingga muncullah istilah permintaan, yaitu keinginan menusia akan produk spesifik yang didukung oleh kemampuan dan ketersediaan untuk membelinya.
5. PERUBAHAN NILAI
Budaya juga perlu mengalami perubahan nilai. Ada beberapa aspek dari perlunya perluasan perubahan budaya yaitu :
1. Budaya merupakan konsep yang meliputi banyak hal atau luas. Hal tersebut termasuk segala sesuatu dari pengaruh proses pemikiran individu dan perilakunya. Ketika budaya tidak menentukan sifat dasar dari frekuensi pada dorongan biologis seperti lapar, hal tersebut berpengaruh jika waktu dan cara dari dorongan ini akan memberi kepuasan.
2. Budaya adalah hal yang diperoleh. Namun tidak memaksudkan mewarisi respon dan kecenderungan. Bagaimanapun juga, bermula dari perilaku manusia tersebut.
3. Kerumitan dari masyarakat modern yang merupakan kebenaran budaya yang jarang memberikan ketentuan yang terperinci atas perilaku yang tepat.
5.1. Variasi nilai perubahan dalam nilai budaya terhadap pembelian dan konsumsi
Nilai budaya memberikan dampak yang lebih pada perilaku konsumen dimana dalam hal ini dimasukkan kedalam kategori-kategori umum yaitu berupa orientasi nilai-nilai lainnya yaitu merefleksi gambaran masyarakat dari hubungan yang tepat antara individu dan kelompok dalam masyarakat. Hubungan ini mempunyai pengaruh yang utama dalam praktek pemasaran. Sebagai contoh, jika masyarakat menilai aktifitas kolektif, konsumen akan melihat kearah lain pada pedoman dalam keputusan pembelanjaan dan tidak akan merespon keuntungan pada seruan promosi untuk “menjadi seorang individual”. Dan begitu juga pada budaya yang individualistik. Sifat dasar dari nilai yang terkait ini termasuk individual/kolektif, kaum muda/tua, meluas/batas keluarga, maskulin/feminim, persaingan/kerjasama, dan perbedaan/keseragaman.
10
5.2. Individual/kolektif
Budaya individualis terdapat pada budaya Amerika, Australia, Inggris, Kanada, New Zealand, dan Swedia. Sedangkan Taiwan, Korea, Hongkong, Meksiko, Jepang, India, dan Rusia lebih kolektifis dalam orientasi mereka. Nilai ini adalah faktor kunci yang membedakan budaya, dan konsep diri yang berpengaruh besar pada individu. Tidak mengherankan, konsumen dari budaya yang memiliki perbedaan nilai, berbeda pula reaksi mereka pada produk asing, iklan, dan sumber yang lebih disukai dari suatu informasi. Seperti contoh, konsumen dari Negara yang lebih kolektifis cenderung untuk menjadi lebih suka meniru dan kurang inovatif dalam pembelian mereka dibandingkan dengan budaya individualistik. Dalam tema yang diangkat seperti ” be your self” dan “stand out”, mungkin lebih efektif dinegara amerika tapi secara umum tidak di negara Jepang, Korea, atau Cina.
5.3. Usia muda/tua
Dalam hal ini apakah dalam budaya pada suatu keluarga, anak-anak sebagai kaum muda lebih berperan dibandingkan dengan orang dewasa dalam pembelian. Dengan kata lain adalah melihat faktor budaya yang lebih bijaksana dalam melihat sisi dari peran usia. Seperti contoh di Negara kepulauan Fiji, para orang tua memilih untuk menyenangkan anak mereka dengan membeli suatu barang. Hal ini berbeda dengan para orang tua di Amerika yang memberikan tuntutan yang positif bagi anak mereka. Disamping itu, walaupun Cina memiliki kebijakan yang mengharuskan untuk membatasi keluarga memiliki lebih dari satu anak, tetapi bagi budaya mereka anak merupakan “kaisar kecil” bagi mereka. Jadi, apapun yang mereka inginkan akan segera dipenuhi. Dengan kata lain, penting untuk diingat bahwa segmen tradisional dan nilai masih berpengaruh dan pera pemasar harus menyesuaikan bukan hanya pada lintas budaya melainkan juga pada budaya didalamnya.
5.4. Luas/batasan keluarga
Yang dimaksud disini adalah bagaimana keluarga dalam suatu budaya membuat suatu keputusan penting bagi anggota keluarganya. Dengan kata lain apakah peran orang dewasa (orang tua) memiliki kebijakan yang lebih dalam memutuskan apa yang terbaik bagi anaknya. Atau malah sebaliknya anak-anak memberi keputusan sendiri apa yang terbaik bagi diri mereka sendiri. Dan bisa dikatakan juga bahwa pengaruh pembelian oleh orang tua akan berpengaruh untuk seterusnya pada anak. Seperti contoh pada beberapa budaya yaitu seperti di Meksiko, sama halnya dengan Amerika, peran orang dewasa sangat berpengaruh. Para orang tua lebih memiliki kecenderungan dalam mengambil keputusan dalam membeli. Begitu juga para orang dewasa muda di Thailand yang hidup sendiri diluar dari orang tua atau keluarga mereka. Tetapi ketergantungan dalam membeli masih dipengaruhi oleh orang tua maupun keluarga mereka. Yang lain halnya di India, sesuatu hal yang akan dibeli diputuskan bersama-sama dalam satu keluarga yaitu seperti diskusi keluarga diantara mereka.

Selasa, 23 November 2010

metode riset bab 5

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpuan

I. Air tanab dangkal di daerab pennukiman sebagian besar tidak layak sebagai air minum baku, karena adanya pencemaran E. Coli (dari 30 contoh sumur, 73% tercemar), ammonia (50%), nitrit (33%), nitrat (7%), sulfida (23%), besi (53%), mangan (46%), BOD5 dan COD .(100%), dan deterjen (70 %) dan terlalu asam (40%).
2. Kualitas air tanah di daerab pemukiman di tanab aluvial tidak berbeda nyata dengan kualitas air tanab daerah pennukiman di tanab latosol (pada taraf nyata a = 5%).
3. Ditinjau dari lokasi penelitian, jenis pencemaran, dan tingkat pencemarannya, sumber pencemar utama air tanab di daerab penelitian adalab limbab domestik.

Saran

1. Penggunaan air untuk air minum sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Bila perlu lakukan pengolaban sederhana, misalnya penyaringan, oerasi, pemberian tawas atau koporit, secara berkala.
2. Perlu dilakukan perbaikan konstruksi sumur yang kurang sempurna dengan pemberian dinding tembok.
3. Perlu pengaturan letak tangki septik terhadap sumber air bersih. Jika luas laban tidak memungkinkan untuk menetapkan jarak yang aman (minimum 10 m), sebaiknya dibuat tangki septik komural.